• Selasa, 22 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kutai Kartanegara



Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Aspianur Sandi, Senin (21/9/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)‎


‎TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat upaya menghadapi kondisi kemarau dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Salah satu langkah yang dilakukan memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 24 September 2026.

‎Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Aspianur Sandi mengatakan, perpanjangan OMC dilakukan setelah pelaksanaan sebelumnya yang seharusnya berakhir pada 19 September.

‎Menurutnya, pemerintah daerah masih berharap operasi tersebut dapat membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah Kukar dan sekitarnya.

‎"OMC itu diperpanjang sampai tanggal 24 September 2026," ujar Aspianur pada KutaiRaya.com, Senin (21/9/2026).

‎Ia menjelaskan pelaksanaan OMC sebelumnya telah dimulai sejak 15 September.

Namun, kondisi awan yang berpotensi menghasilkan hujan belum merata dalam beberapa hari terakhir.

‎"Potensi awan sekarang untuk dalam dua hari ini tidak ada. Besok mungkin baru ada OMC yang mudah-mudahan itu menjadi hujan," katanya.

‎Ia mengemukakan, dalam pelaksanaan OMC selama 4 hari sebelumnya, pertumbuhan awan yang menjadi sasaran justru lebih banyak berada di wilayah hulu, seperti Berau.

Kondisi ini membuat hasil hujan dari operasi modifikasi cuaca belum sepenuhnya dirasakan di wilayah Kukar.

‎"Kebanyakan larinya ke Pontianak, dapat hujannya. OMC-nya dari Kaltim," ujarnya.

‎Selain berupaya mendatangkan hujan, Pemkab Kukar melalui BPBD juga terus melakukan pemantauan terhadap sejumlah wilayah yang dinilai memiliki potensi karhutla.

‎Ia menegaskan lokasi yang saat ini dipantau bukan berarti seluruhnya merupakan titik api baru.

Pemantauan dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi lahan yang masih rentan terbakar.

‎"Ini bukan titik api baru, ini lokasi terbaru. Kalau titik terbaru, enggak ada," tuturnya.

‎Menurutnya, sebagian besar lokasi yang menjadi perhatian berada di kawasan lahan gambut.

Kondisi gambut yang kering menjadi salah satu faktor yang membuat penanganan kebakaran membutuhkan perhatian lebih.

‎Salah satu kawasan yang masih dipantau, yakni cagar alam di Kecamatan Muara Kaman yang memiliki karakteristik lahan gambut.

Selain itu, BPBD juga memantau kawasan Muara Jawa yang berada di sekitar jalur pipa minyak Pertamina.

‎Sementara itu, penanganan karhutla di wilayah Muara Badak sebelumnya telah dituntaskan.

Meskipun demikian, BPBD tetap melakukan pemantauan karena masih ditemukan beberapa titik yang perlu diwaspadai.

‎Ia menyebutkan titik yang kembali muncul, antara lain berada di Desa Badak Baru dan kawasan Tanjung Limau yang berbatasan dengan Kecamatan Marangkayu. (Adv/Zar)



Pasang Iklan
Top