
Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kukar Awang Agus Dharmawan.(Foto: Andri/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Keterbatasan anggaran tidak menyurutkan upaya Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar) dalam memperkenalkan potensi wisata daerah. Memasuki 2026 yang diwarnai efisiensi anggaran, Dispar Kukar mulai mendorong pola kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghidupkan destinasi sekaligus memperluas jangkauan promosi.
Strategi tersebut dilakukan dengan membuka ruang bagi komunitas, media maupun pihak lain yang memiliki kegiatan untuk memanfaatkan destinasi wisata sebagai lokasi pelaksanaan program maupun kegiatan kreatif.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan efisiensi anggaran memang membuat tidak seluruh program yang telah direncanakan dapat direalisasikan pada tahun ini.
Meski demikian, Dispar tetap berupaya memastikan program yang dianggap penting dan masih memungkinkan untuk dilaksanakan tetap berjalan, khususnya yang berkaitan dengan promosi destinasi serta penguatan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
“Hasilnya, kegiatan-kegiatan pada 2026 ini memang tidak semuanya bisa berjalan tahun ini. Kita maklum dengan kondisi anggaran yang ada, tetapi kami sedapat mungkin memastikan program-program yang bisa dijalankan tetap berjalan,” ujar Awang, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi momentum bagi Dispar untuk mengembangkan cara baru dalam menggerakkan sektor pariwisata. Kolaborasi dinilai dapat menjadi salah satu solusi agar kegiatan di destinasi tetap berlangsung sekaligus memberikan dampak promosi.
“Yang bisa kita siasati dengan kolaborasi, kita lakukan. Program-program dari kawan-kawan yang memiliki program bisa disampaikan kepada kita,” katanya.
Melalui skema tersebut, Dispar Kukar dapat menyediakan ruang maupun fasilitas yang dimiliki pemerintah daerah untuk mendukung kegiatan mitra. Sebaliknya, kegiatan yang dilaksanakan di destinasi wisata turut memberikan eksposur terhadap lokasi tersebut.
Awang menjelaskan, pola ini memungkinkan destinasi wisata tidak hanya menjadi tempat kunjungan, tetapi juga ruang untuk berbagai aktivitas masyarakat, komunitas dan media.
“Kalau kita punya fasilitas, ayo kita gandeng dan kita jalankan bersama. Seperti yang kemarin dilaksanakan kawan-kawan media,” jelasnya.
Ia menilai semakin banyak kegiatan positif yang digelar di destinasi wisata, semakin terbuka pula peluang destinasi tersebut dikenal masyarakat luas. Terlebih apabila kegiatan turut dipublikasikan melalui media massa maupun platform digital.
“Sekarang lebih kepada bagaimana kita memutar otak agar tujuan-tujuan wisata kita bisa terekspos melalui kawan-kawan media,” ungkap Awang.
Menurutnya, kolaborasi tersebut juga dapat menciptakan hubungan yang saling menguntungkan. Pemerintah daerah memberikan dukungan berupa tempat dan fasilitas yang tersedia, sedangkan mitra menghadirkan kegiatan sekaligus membantu memperluas publikasi destinasi.
“Kita mendapatkan keuntungan promosi secara gratis, sementara kita menyediakan tempat dan fasilitas secara gratis bagi kawan-kawan untuk berekspresi. Jadi, kira-kira seperti itu, saling menguntungkan,” pungkasnya. (Adv/Dri)