
Kondisi Air Sungai Mahakam di tengah hari, Kamis (17/9/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Perubahan warna air Sungai Mahakam yang terlihat hijau kebiruan di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan masyarakat.
Warga mempertanyakan apakah kondisi tersebut memengaruhi kualitas air dan kelayakannya sebagai sumber air baku.
Direktur Utama PDAM Tirta Mahakam, Suparno mengatakan, perubahan warna air tidak serta merta menunjukkan bahwa air tersebut tidak dapat diolah.
Menurutnya, salah satu parameter yang perlu diperhatikan adalah kadar klorida.
"Sebetulnya warna biru itu tidak ada masalah, bukan berarti tidak bisa diproduksi. Yang jadi persoalan sekarang ini kloridanya sampai berapa, itu yang menjadi ukuran," kata Suparno kepada KutaiRaya.com, Jumat (18/9/2026).
Ia menjelaskan PDAM memiliki batas kadar klorida dalam pengelolaan air baku.
Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, kondisi air baku di Kabupaten Kukar sejauh ini masih berada dalam batas yang dapat dioperasikan oleh PDAM.
"Selama ini untuk Kukar tidak ada masalah, karena kloridanya di bawah 250 ppm. Berarti masih layak sebagai sumber air baku," ujarnya.
Ia memastikan hingga saat ini operasional pengolahan air PDAM Tirta Mahakam di Kukar masih berjalan seperti biasa dan belum mengalami gangguan akibat perubahan warna air Sungai Mahakam.
"Kalau sementara kami di Kukar, Alhamdulillah, belum mengalami perubahan apa-apa, masih jalan seperti biasa," tuturnya.
Terkait penyebab perubahan warna air Sungai Mahakam, ia mengatakan hal tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pengamatan secara kasat mata.
Menurutnya, ada sejumlah kemungkinan yang dapat memengaruhi kondisi air sungai, salah satunya perubahan kadar air akibat kondisi cuaca dan kemungkinan masuknya air asin.
"Banyak faktor. Kalau saya tidak bisa mengkaji perubahan ini. Salah satunya mungkin saja ada intrusi air laut yang berdampak. Mungkin saja dengan panas cuaca ini," ucapnya.
Namun, ia menegaskan dugaan tersebut masih membutuhkan kajian dan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab perubahan warna air.
Selain itu, kondisi cuaca yang minim hujan juga dinilai dapat memengaruhi tampilan air Sungai Mahakam.
"Karena memang tidak ada hujan sehingga kekeruhan itu berkurang. Tadinya kan hujan, segala macam, jadi kekeruhannya tinggi. Nah sekarang kemungkinan tidak ada hujan itu sehingga kelihatan agak bening," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, Ahmad Fahruji mengemukakan, pihaknya telah melakukan pengukuran kualitas air Sungai Mahakam pada 27-28 Agustus 2026.
Dari hasil pengukuran tersebut, pihaknya belum menemukan indikasi yang signifikan terkait pengaruh air asin terhadap kondisi Sungai Mahakam di lokasi pengambilan sampel.
Ia menjelaskan pengambilan sampel dilakukan di sekitar lokasi intake PDAM karena kawasan tersebut menjadi salah satu titik yang berkaitan dengan sumber air baku.
"Karena kami ambil langsung di dekat intakenya PDAM. Air bakunya kan dekat sana, jadi kami ambil di sana," ujarnya.
Berdasarkan hasil pengukuran pada tanggal tersebut, kondisi Sungai Mahakam masih dinilai layak untuk dijadikan sumber air baku.
Ia juga menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan air.
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan pada akhir Agustus tersebut, air Sungai Mahakam di lokasi pengambilan sampel masih dinyatakan aman dan layak sebagai sumber air baku. (*Zar)