
Wakil Bupati Berau, Gamalis saat meninjau pemasangan alat pengukur kualitas udara di wilayah Tanjung Redeb.(Foto: Bul/KutaiRaya.com)
BERAU, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kabupaten Berau terus memperkuat langkah perlindungan masyarakat di tengah kondisi kabut asap yang dalam beberapa hari terakhir semakin pekat.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni meningkatkan pemantauan kualitas udara dengan pengukuran yang lebih terukur dan berbasis data.
Upaya tersebut ditandai dengan peninjauan langsung Wakil Bupati Berau, Gamalis, terhadap pemasangan alat pengukur kualitas udara di wilayah Tanjung Redeb.
Perangkat ini digunakan untuk mengetahui kondisi udara, khususnya parameter partikulat PM2.5 dan PM10, sehingga pemerintah memiliki gambaran faktual mengenai kualitas udara yang dihadapi masyarakat.
Bagi Pemkab Berau, ketersediaan data menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan. Pemerintah tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan kondisi yang terlihat secara kasat mata, tetapi menggunakan hasil pengukuran sebagai dasar evaluasi dan kebijakan.
Gamalis mengatakan, alat yang dipasang akan melakukan pemantauan selama 24 jam. Data yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis untuk mengetahui kondisi kualitas udara secara lebih menyeluruh.
“Agenda kita hari ini sedang memasang alat untuk memantau kondisi kualitas udara yang ada di Kabupaten Berau. Kita tadi sudah melakukan pemantauan di dalam ruangan,” ungkap Gamalis.
Ia menyebutkan, hasil pemantauan sebelumnya menunjukkan angka PM2.5 yang cukup tinggi, bahkan mencapai 385. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena menunjukkan adanya perubahan kualitas udara dibandingkan beberapa minggu sebelumnya.
“PM2.5-nya cukup tinggi, sampai 385. Dibanding beberapa minggu yang lalu, hari ini memang kondisinya semakin pekat,” ujarnya.
Karena itu, pemasangan alat pemantau kualitas udara menjadi bagian dari respons pemerintah untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Jajaran Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga terus memantau perkembangan kondisi udara di wilayah Berau.
Pengukuran selama 24 jam diharapkan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kualitas udara di titik pemantauan. Apabila perangkat mulai bekerja sekitar pukul 14.00 WITA, hasil pengukuran dapat diperoleh pada waktu yang sama keesokan harinya untuk kemudian dianalisis.
“Besok sekitar jam 14.00 sudah ada hasilnya. Kemudian sekitar jam 15.00 atau maksimal jam 16.00 kita sudah bisa menerima hasil seperti apa kualitas udara kita di sini,” jelasnya.
Gamalis menegaskan, hasil pengukuran tersebut akan menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menentukan langkah selanjutnya. Terlebih, kondisi kualitas udara dapat berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat maupun berbagai agenda pemerintah.
“Bagaimanapun, solusi yang akan kita ambil harus by data, berdasarkan data yang ada,” tegasnya.
Penguatan pemantauan ini juga tidak berhenti pada penggunaan alat yang saat ini telah dipasang. Pemkab Berau tengah menyiapkan rencana pengadaan perangkat pemantau kualitas udara portabel yang dapat memberikan informasi secara real time.
Menurut Gamalis, perangkat tersebut memiliki keunggulan karena dapat dipindahkan sesuai kebutuhan. Selain lebih fleksibel dalam penggunaannya, alat tersebut direncanakan dapat terkoneksi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
“Alat real time itu portable, bisa dibawa ke mana-mana dan terkoneksi ke KLH. Kita membutuhkan pengadaan alat tersebut,” ujarnya.
Jika dukungan anggaran memungkinkan, pemerintah menargetkan satu unit perangkat portabel tersebut dapat tersedia dalam waktu sekitar dua minggu.
Keberadaan alat yang lebih mobile dinilai penting karena kondisi kualitas udara tidak selalu sama di setiap wilayah. Dengan perangkat yang dapat dipindahkan, pemerintah memiliki ruang yang lebih luas untuk melakukan pengukuran pada lokasi yang membutuhkan perhatian.
“Lebih mobile, lebih real time, parameternya lebih akurat dan terhubung langsung ke KLH,” kata Gamalis.
Saat ini, pemantauan kualitas udara terdekat masih mengacu pada stasiun yang berada di Tanjung Selor. Sementara di wilayah Kalimantan Timur, stasiun pemantauan juga tersedia di Bontang.
Pemasangan alat di Tanjung Redeb diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi udara dengan cakupan keterwakilan sekitar empat kilometer dari titik pemasangan. Namun, kebutuhan pemantauan di wilayah lain juga mulai menjadi perhatian pemerintah.
Salah satunya wilayah Batu Putih. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Pemkab Berau untuk memperluas penggunaan perangkat pemantau apabila pengadaan alat portabel dapat direalisasikan.
Gamalis bahkan menyampaikan pentingnya membangun sistem pemantauan yang lebih luas sehingga kondisi udara di berbagai wilayah Berau dapat diketahui berdasarkan pengukuran langsung.
“Kalau memungkinkan alatnya ada dan infrastrukturnya disiapkan dengan baik, sebaiknya kita melakukan pengukuran di setiap kecamatan,” tandasnya. (Adv/Bul)