• Kamis, 17 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Tangkapan layar video udara ITS, Kamis (17/9/26) pukul 08:00 Wita.(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Kondisi udara di Kota Samarinda memburuk pada beberapa hari terakhir. Pemantauan Laboratorium Kesehatan (Labkes) Provinsi Kalimantan Timur mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di angka 357 atau masuk kategori sangat buruk (very poor), Kamis (17/9/2026).

Data tersebut diperoleh dari pemantauan kualitas udara yang dilakukan sejak 14 hingga 17 September 2026 melalui stasiun pemantau di halaman Labkes Kaltim, Jalan Ahmad Dahlan, Samarinda.

Selama periode pemantauan, peningkatan konsentrasi pencemar udara cenderung terjadi pada dini hari dan mencapai level tinggi hingga pagi hari.

Sejumlah parameter pencemar menunjukkan angka cukup tinggi. Konsentrasi partikulat PM2.5 tercatat mencapai 194,42 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sementara PM10 berada di angka 306,65 µg/m³. Selain partikulat, sulfur dioksida (SO2) juga beberapa kali terpantau melampaui batas paparan aman pada periode satu jam.

Kepala Laboratorium Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Muhammad Yunus, mengatakan pola yang terekam selama pemantauan mengindikasikan adanya pengaruh siklus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan sekitar Samarinda.

Situasi tersebut turut dipengaruhi pergerakan angin yang dominan berasal dari arah timur laut dan timur. Kecepatan angin yang berada di bawah satu meter per detik dinilai berpotensi membawa sekaligus menyebabkan asap terakumulasi di kawasan perkotaan.

Konsentrasi polutan mulai mengalami peningkatan sekitar pukul 02.00 Wita dan bertahan hingga pagi. Kondisi itu juga berkaitan dengan fenomena inversi suhu, ketika lapisan udara dingin di dekat permukaan menahan polutan sehingga sulit terdispersi ke atmosfer.

Akibatnya, partikulat halus, termasuk yang berasal dari asap karhutla, dapat terperangkap di lapisan udara dekat permukaan dan konsentrasinya meningkat.

“Dari pola pemantauan selama empat hari terakhir, kualitas udara masih berpotensi memburuk pada malam hingga dini hari. Kondisinya dapat membaik secara fluktuatif pada siang hari ketika lapisan inversi mulai terurai akibat pemanasan sinar matahari,” ungkap Yunus, Kamis (17/9/2026).

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya pada malam hingga pagi hari, untuk menekan risiko gangguan pernapasan.

Apabila harus beraktivitas di luar rumah, warga dianjurkan menggunakan masker yang mampu menyaring partikulat, seperti N95, KN95, atau KF94.

Warga juga disarankan menutup pintu dan jendela ketika kabut asap semakin pekat guna mengurangi masuknya polutan ke dalam rumah.

Sementara bagi masyarakat yang mengalami keluhan seperti sesak di dada, batuk berat maupun iritasi pada mata, disarankan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan agar mendapatkan pemeriksaan. (*Yud)



Pasang Iklan
Top