
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Jaya Mualimin, Rabu (16/9/2026).(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Keterbatasan sumber air bersih selama musim kemarau perlu diwaspadai masyarakat Kalimantan Timur. Selain berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit apabila air yang digunakan telah tercemar.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, ketika kemarau berlangsung, masyarakat cenderung bergantung pada sumber-sumber air yang masih tersedia. Kondisi itu membuat satu sumber air berpotensi digunakan banyak pihak dan lebih rentan mengalami pencemaran.
Tidak hanya digunakan manusia, sumber air terbuka juga dapat didatangi hewan. Karena itu, masyarakat diminta lebih memperhatikan kebersihan dan keamanan air sebelum digunakan, terutama pada kebutuhan konsumsi.
“Ketika terjadi kekeringan, sumber air menjadi sangat terbatas, sementara kebutuhan masyarakat terhadap air tetap tinggi. Sumber air yang tersedia bisa didatangi manusia maupun hewan. Kalau sudah tercemar, tentu ada risiko menjadi media penularan penyakit, salah satunya diare,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, potensi penyakit tidak hanya berasal dari air yang secara kasat mata terlihat kotor. Kontaminasi dari kotoran maupun urine hewan juga perlu menjadi perhatian, khususnya pada sumber air yang berada di lingkungan terbuka.
Ia turut mengingatkan masyarakat terhadap penyakit yang dapat ditularkan melalui urine tikus.
“Penyakit yang berkaitan dengan paparan urine tikus juga harus diwaspadai. Karena itu, kebersihan sumber air dan lingkungan jangan sampai diabaikan,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Kaltim terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko kesehatan yang dapat muncul selama musim kemarau, terutama penyakit yang berkaitan dengan kualitas air dan buruknya sanitasi.
Masyarakat juga diminta tidak sekadar menyimpan air dalam jumlah cukup, tetapi memastikan tempat penampungannya tetap bersih dan tertutup dengan baik. Air yang disimpan terlalu lama atau berada dalam wadah yang tidak terjaga kebersihannya berpotensi mengalami pencemaran.
Selain diare, kondisi sanitasi dan kualitas air yang buruk juga dapat memicu berbagai gangguan kesehatan lainnya, termasuk masalah pada kulit.
Tak hanya persoalan air, musim kemarau turut membawa risiko gangguan pada saluran pernapasan. Kondisi udara yang lebih kering menyebabkan debu lebih mudah beterbangan dan dapat mengganggu masyarakat, terutama mereka yang sensitif terhadap kualitas udara.
Karena itu, Dinkes Kaltim mengimbau masyarakat meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat selama musim kemarau. Kebersihan tubuh dan lingkungan perlu dijaga, kualitas air harus dipastikan aman, serta paparan debu sebisa mungkin dikurangi.
Langkah pencegahan tersebut dinilai penting agar keterbatasan air selama musim kemarau tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan di tengah masyarakat. (*Yud)