• Kamis, 03 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Ketua Forum Kota Sehat Kota Samarinda, Rinda Wahyuni Andi Harun saat menyampaikan pidato usai menerima penghargaan di Sydney, Australia. Rabu (2/9/2026).(Foto: Dok.Ig/Rindaandiharun)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Pengakuan internasional yang diterima Kota Samarinda dalam ajang WHO Healthy Cities Recognition Awards 2026, tidak hanya berkaitan dengan pembangunan sektor kesehatan.

World Health Organization (WHO) menilai cara Samarinda membangun lingkungan perkotaan yang lebih aman, termasuk dalam upaya mencegah kekerasan dan mendorong kesetaraan gender.

Pengakuan ini diberikan dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung di Sydney, Australia, pada 1–3 September 2026.

Samarinda menjadi salah satu kota yang mendapatkan penghargaan melalui tema Preventing Violence and Promoting Gender Equality: Transforming Urban Systems, Norms, and Spaces.

Ketua Forum Kota Sehat Kota Samarinda, Rinda Wahyuni Andi Harun, yang hadir mewakili Samarinda, mengatakan penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa upaya membangun kota sehat memiliki cakupan yang luas.

“Penghargaan ini bukan hanya tentang kesehatan dalam arti layanan medis, tetapi bagaimana kita menciptakan kota yang aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat,” ujar Rinda.

Menurutnya, perhatian terhadap perempuan dan anak menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan perkotaan yang sehat.

Upaya ini membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, bukan hanya pemerintah.

“Ketika kita bicara kota sehat, tentu kita juga bicara tentang rasa aman, perlindungan terhadap perempuan dan anak, serta bagaimana masyarakat bisa berpartisipasi,” katanya.

Menurut Rinda, pengakuan dari WHO menjadi kebanggaan tersendiri bagi Samarinda karena diberikan pada tingkat internasional.

“Merupakan satu kebanggaan di mana itu sifatnya dunia. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat apa yang sudah dilakukan di Samarinda,” ujarnya.

Ia menambahkan, penghargaan ini tidak seharusnya dipandang sebagai tujuan akhir.

Menurutnya, pengakuan tersebut justru menjadi dorongan untuk memastikan berbagai program dan sistem yang telah berjalan dapat terus dipertahankan.

“Penghargaan ini harus menjadi penyemangat untuk terus memperbaiki sistem dan memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari pembangunan kota yang sehat,” tutur Rinda.

Koordinator Divisions of Health Promotion, Disease Prevention and Control WHO Office for the Western Pacific Region, Joana Madureira Lima, menjelaskan bahwa pengalaman Samarinda memiliki nilai untuk dibagikan kepada kota-kota lain.

“Penting juga untuk mengulas kembali alasan mengapa Samarinda mendapatkan penghargaan ini,” ujar Joana.

Menurut dia, Samarinda memperlihatkan pola pendekatan multisektoral yang dipimpin secara lokal dalam menangani persoalan kekerasan, sekaligus mendorong kesetaraan gender.

Pendekatan ini terlihat dari keterlibatan berbagai komponen, mulai dari layanan kesehatan dan sosial, forum anak, sistem pelaporan berbasis digital, masyarakat, hingga kebijakan penganggaran yang memperhatikan perspektif gender.

“Aspek multisektoral yang kami nilai penting tersebut berkaitan dengan kombinasi antara layanan kesehatan dan sosial, forum anak, pelaporan digital, keterlibatan masyarakat, penganggaran yang responsif gender, serta pembiayaan yang berkelanjutan,” kata Joana.

Bagi WHO, kombinasi tersebut menjadi salah satu alasan Samarinda memperoleh pengakuan dalam ajang Healthy Cities 2026.

“Inilah alasan mengapa Samarinda mendapatkan penghargaan tersebut,” ucapnya.

Dengan demikian, upaya Samarinda tidak dipandang sebagai satu program yang berdiri sendiri.

Pencegahan kekerasan dan promosi kesetaraan gender justru dinilai telah menjadi bagian dari mekanisme kota dalam memberikan pelayanan, membuka ruang partisipasi masyarakat, serta mengalokasikan sumber daya.

Model ini dinilai relevan untuk menjadi pengalaman yang dapat dipelajari oleh kota-kota lain di kawasan Asia Pasifik.

Hal menarik lainnya datang dari proses penilaian penghargaan tersebut.

Pemerintah Kota Samarinda menyebut proses tersebut berlangsung tanpa adanya pertemuan tatap muka antara pihak Samarinda dengan tim penilai WHO.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengemukakan, dirinya tidak menghadiri langsung agenda di Sydney lantaran harus menjalankan sejumlah kegiatan di dalam negeri.

Samarinda dalam agenda tersebut diwakili Rinda Wahyuni Andi Harun bersama Kepala Bagian Kerja Sama.

Menurut Andi Harun, proses penilaian dilakukan secara independen.

Pemerintah kota juga tidak mengetahui secara pasti kapan maupun seperti apa tahapan penilaian yang dilakukan WHO hingga akhirnya Samarinda ditetapkan sebagai penerima penghargaan.

“Zero KKN bahkan zero contact dalam bentuk tatap muka, tiba-tiba saja diumumkan oleh WHO bahwa kita adalah penerima penghargaan tersebut dan ini insya Allah satu-satunya di Indonesia,” kata Andi Harun.

Ia juga menjelaskan kehadiran perwakilan Samarinda di Sydney tidak menggunakan pembiayaan dari APBD.

“Itu semua ditanggung oleh WHO,” ujar Andi.

Kepala Bagian Kerja Sama, kata Andi Harun, tidak menggunakan fasilitas perjalanan dinas.

Pengeluaran awal dilakukan secara pribadi dengan mengambil cuti, sedangkan biaya perjalanan selanjutnya ditanggung oleh WHO.

“Jadi hanya pengeluaran sementara saja yang berbentuk biaya sendiri karena seluruh biayanya ditanggung oleh WHO,” tuturnya.

Penghargaan ini memberikan pengakuan terhadap Kota Samarinda fungsi perlindungan serta partisipasi masyarakat juga menjadi aspek penilaian, yang tidak hanya menitikberatkan pada sektor kesehatan saja.

Ia berharap penghargaan ini menjadi satu alasan kuat bahwa Kota Samarinda dapat menciptakan ruang kota yang aman dan inklusif bagi masyarakat. (Abi)



Pasang Iklan
Top