
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Muhammad Faisal saat menyerahkan penghargaan kepada juara film umum terbaik.(Foto: Dok. Dispar)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Antusiasme sineas terhadap Festival Film Akhir Pekan yang pertama kali digelar di Kalimantan Timur terlihat dari banyaknya karya yang masuk. Sebanyak 111 film dari berbagai daerah di Indonesia tercatat mengikuti festival yang berlangsung pada 27-29 Agustus 2026.
Dari keseluruhan karya tersebut, 48 film terdaftar pada kategori kompetisi, sementara 63 lainnya masuk kategori non-kompetisi. Setelah melewati tahap kurasi, panitia menetapkan 12 film sebagai nominasi, masing-masing enam film kategori umum, tiga kategori mahasiswa, dan tiga kategori pelajar.
Festival Film Akhir Pekan digagas Wisma Citra Sinema bersama komunitas perfilman dengan dukungan Dinas Pariwisata Kalimantan Timur. Selama tiga hari penyelenggaraan, kegiatan diisi dengan pembukaan, pemutaran sejumlah karya hingga malam penghargaan.
Filmmaker sekaligus Ketua Wisma Citra Sinema, Achmad Junaidi, mengatakan kategori kompetisi difokuskan bagi karya sineas asal Kalimantan Timur maupun mereka yang berdomisili di daerah tersebut.
“Untuk kategori kompetisi memang dikhususkan bagi film dari Kaltim atau karya sineas yang berdomisili di Kalimantan Timur,” kata Achmad, Sabtu (29/8/26).
Sineas asal Kaltim yang saat ini berada di luar daerah, tetap memiliki kesempatan mengikuti kompetisi sepanjang memenuhi ketentuan penyelenggara. Salah satu persyaratannya berkaitan dengan keterlibatan sineas Kaltim dalam posisi penting produksi, seperti sutradara, penulis naskah, sinematografer maupun produser.
Berbeda dengan kompetisi, kategori non-kompetisi terbuka bagi sineas dari seluruh Indonesia. Latar belakang peserta pun beragam, mulai pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum.
Dari total 111 karya yang diterima, film yang berasal dari luar Kalimantan mendominasi jumlah submission. Sedangkan karya dari Kalimantan Timur tercatat sekitar 22 hingga 23 film.
Menurutnta, jumlah tersebut menunjukkan Festival Film Akhir Pekan mendapat sambutan cukup besar meski baru pertama kali diselenggarakan. Festival ini sekaligus menjadi ruang bertemunya karya dan komunitas perfilman dari berbagai daerah.
Ia melihat perkembangan sumber daya manusia (SDM) perfilman di Kalimantan Timur juga semakin menjanjikan. Kemampuan sineas daerah dinilai telah berkembang dan mampu menghasilkan karya yang dapat bersaing di tingkat nasional.
“Kalau melihat perkembangannya, terutama dari sisi SDM, kemajuannya luar biasa. Kemampuan sineas kita sudah semakin mumpuni dan mulai mampu bersaing,” ujarnya.
Bahkan, sejumlah karya sineas Kalimantan Timur telah mendapat ruang hingga tingkat internasional. Namun, ia melihat masih ada persoalan kepercayaan diri yang perlu dibangun agar sineas daerah lebih berani membawa karya mereka ke panggung yang lebih luas.
“Karya dari Kalimantan Timur sebenarnya sudah sangat bagus. Ada yang mampu berbicara di tingkat nasional bahkan internasional. Mungkin yang masih kurang adalah rasa percaya diri. Kemampuannya sebenarnya ada,” ungkapnya.
Selain persoalan tersebut, tantangan lain adalah kemampuan menggali cerita yang autentik dan memiliki identitas kuat sebagai karya dari Kalimantan Timur. Pengembangan aspek teknis produksi, ketersediaan peralatan serta peningkatan kapasitas SDM juga masih menjadi pekerjaan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Tantangannya bagaimana kita bisa menggali cerita yang benar-benar autentik dan memang menjadi milik kita,” katanya.
Dirinya juga melihat dukungan pemerintah terhadap subsektor perfilman di Kalimantan Timur mulai bergerak ke arah positif. Wisma Citra Sinema, misalnya, telah beberapa kali berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kaltim dalam produksi film.
Sejumlah karya yang lahir melalui perjalanan tersebut antara lain Hantu Banyu, Lamak, Nyanyian Sunyi, Lakatan, hingga Mahakam Story.
Menurutnya, dukungan pendanaan menjadi salah satu aspek penting untuk mendorong perkembangan produksi film daerah. Pasalnya, pembuatan film membutuhkan biaya yang tidak sedikit, meskipun produksi dengan pola kolektif di lingkungan komunitas tetap memungkinkan dilakukan.
“Dari sisi pendanaan, produksi film memang membutuhkan biaya yang cukup besar. Dengan semangat kolektif sebenarnya tetap bisa dilakukan, tetapi tentu akan lebih baik apabila tersedia sumber pendanaan dari pemerintah,” jelasnya.
Ia menilai subsektor film memiliki peluang besar untuk terus tumbuh di Kalimantan Timur. Karena itu, keterlibatan pemerintah, sektor swasta, komunitas dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk membangun ekosistem perfilman daerah yang semakin kuat.
Festival Film Akhir Pekan yang baru pertama kali dilaksanakan juga akan menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara. Setelah seluruh rangkaian berakhir, panitia akan melihat respons komunitas maupun efektivitas pelaksanaan sebagai pertimbangan untuk penyelenggaraan berikutnya.
Melihat tingginya partisipasi pada gelaran perdana, Achmad optimistis Festival Film Akhir Pekan memiliki peluang untuk kembali dilaksanakan.
“Kalau melihat antusiasme peserta dan bagaimana acara ini dikemas, kami sudah cukup percaya diri untuk menggelarnya kembali,” tuturnya.
Keberlanjutan festival, tetap membutuhkan kolaborasi dan dukungan berbagai pihak. Pemerintah, swasta, komunitas maupun pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat bersama-sama menjaga ruang bagi sineas lokal untuk berkarya.
“Dukungan dari komunitas dan teman-teman stakeholder sejauh ini sudah luar biasa. Mudah-mudahan festival ini bisa terus berlanjut, bahkan nantinya menjadi agenda tahunan atau mungkin diselenggarakan setiap enam bulan,” pungkasnya. (*Yud)