• Minggu, 30 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Pesut yang muncul di Wisata Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun,Jumat (28/8/2026).(Dok. Pokdarwis Desa Pela)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Musim kemarau membuat kemunculan pesut di Sungai Pela, Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), semakin sulit diprediksi.

Meskipun begitu, wisata pesut tetap berjalan dan masih diminati wisatawan.

Ketua Pokdarwis Desa Pela, Alimin mengatakan, kondisi Sungai Pela yang mulai dangkal membuat pesut lebih jarang terlihat.

Pesut membutuhkan perairan yang cukup dalam untuk beraktivitas dan mencari makan.

"Pesut tidak mau kalau terlalu dangkal, harus agak dalam. Jadi kemunculannya sekarang susah ditebak," kata Alimin kepada KutaiRaya.com, Jumat (28/8/2026),

Pesut saat ini lebih banyak bergerak di kawasan Sungai Mahakam, terutama di antara wilayah Muara Kaman hingga Muara Muntai.

Di Desa Pela, keberadaan pesut terkadang hanya terdengar dari suaranya, terutama pada malam hari.

"Mungkin air Mahakam masuk sedikit, mereka mencari makan, setelah itu kembali lagi," ujarnya.

Ia menjelaskan pada kondisi normal pesut biasanya lebih mudah ditemukan pada pagi hingga siang hari maupun sore.

Namun selama musim kemarau, kemunculan pesut pada siang hari di sekitar Desa Pela cukup sulit ditemukan.

Meskipun demikian, wisatawan tetap bisa mengikuti paket susur sungai untuk mencari keberadaan pesut.

Jika pesut tidak terlihat, wisatawan akan diarahkan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Savana Hijau di Desa Liang Ulu.

"Kalau wisata pesut masih berlanjut. Kalau ada yang mau susur sungai tetap boleh. Sambil susur sungai, kita lihat siapa tahu ada pesut muncul. Terakhir biasanya bisa menikmati sunset," katanya.

Ia memastikan musim kemarau sejauh ini tidak menunjukkan dampak buruk terhadap populasi pesut Mahakam.

Berdasarkan informasi yang mereka terima, belum ada laporan kematian pesut akibat kondisi kemarau.

"Sementara ini tidak ada. Kalau dari penelitian yang kami dapat, belum ada kematian pesut. Jadi aman," ucapnya.

Sementara itu dari sisi jumlah pesut, ia menyebutkan belum ada perubahan signifikan.

Populasi pesut Mahakam berdasarkan data masih berada di kisaran 65 ekor.

Sedangkan jumlah pengunjung di Pela malah ada kenaikan.

Bulan Agustus ini, pengunjung agak naik, terutama untuk paket Savana.

Untuk wisata pesut sendiri, menurutnya, jumlah wisatawan masih relatif stabil.

Pokdarwis Desa Pela tetap menawarkan paket wisata susur sungai kepada pengunjung, termasuk paket perjalanan menuju kawasan Muara Kaman dan Muara Muntai bagi wisatawan yang ingin mencari keberadaan pesut di habitatnya.

"Ada beberapa paket yang dapat dipilih wisatawan, dari harga mulai dari Rp 200 ribu ke atas," tuturnya.

Ia mengajak masyarakat, khususnya warga Kalimantan Timur, untuk bersama-sama menjaga keberadaan pesut Mahakam.

Menurutnya, pesut merupakan kekayaan alam yang menjadi bagian penting dari ekosistem Sungai Mahakam dan harus dilestarikan.

"Kalau bisa jangan ada lagi kematian pesut. Jangan buang sampah di sungai, kemudian illegal fishing juga harus dijaga. Ikan setrum, racun, bom, dan alat-alat yang membahayakan pesut harus dihindari," tuturnya.

Sementara itu, Kadispar Kukar, Awang Agus mengatakan, musim kemarau tidak menjadi hambatan bagi pengembangan wisata di Desa Pela, meskipun kemunculan pesut saat ini sulit diprediksi.

Aktivitas wisata tetap dapat berjalan dengan menawarkan berbagai pilihan paket kepada wisatawan.

"Kita apresiasi pengelola di Desa Pela yang terus berinovasi. Jangan hanya mengandalkan satu objek saja, tetapi potensi lainnya juga harus dikembangkan dan dikemas menjadi paket wisata yang menarik," ucapnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top