• Jum'at, 28 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Konpers karhutla diruang wiek Diskominfo Kaltim.(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur menjadi perhatian serius menyusul tingginya jumlah titik panas selama Agustus 2026. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memperkuat langkah pencegahan, pemantauan hingga respons cepat di lapangan dengan melibatkan berbagai instansi terkait.

Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kaltim mencatat 14.795 hotspot terdeteksi sepanjang 1-26 Agustus 2026. Kabupaten Berau menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak mencapai 6.004 titik, disusul Kutai Timur 3.003 titik, Kutai Kartanegara 2.426 titik dan Paser sebanyak 1.934 titik.

Dari keseluruhan hotspot tersebut, sebanyak 820 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi dan menjadi perhatian dalam upaya penanganan oleh tim gabungan.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan penanganan karhutla tidak hanya difokuskan ketika kebakaran telah meluas. Pemerintah daerah, menurut dia, membangun sistem kesiapsiagaan mulai dari pencegahan hingga penanganan di lapangan.

“Penanganan karhutla tidak bisa menunggu api membesar. Kesiapsiagaan harus dibangun dari hulu sampai hilir, mulai penguatan logistik di kabupaten dan kota, menyiagakan Tim Reaksi Cepat hingga memperkuat koordinasi dengan Otorita IKN agar kawasan inti maupun wilayah penyangga tetap terlindungi,” kata Buyung dalam jumpa pers, Kamis (27/8/26).

Menghadapi puncak musim kemarau, Pemprov Kaltim telah menetapkan Status Siaga Bencana Hidrometeorologi. Gubernur Kaltim juga menerbitkan surat edaran mengenai peningkatan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan dan karhutla.

Pemantauan dilakukan selama 24 jam dengan melibatkan koordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Kementerian Kehutanan. Informasi mengenai kemunculan hotspot menjadi salah satu dasar untuk menentukan langkah penanganan di lapangan.

Selain mengandalkan kesiapan personel dan peralatan, BPBD Kaltim memperkuat keterlibatan masyarakat melalui Desa Tangguh Bencana (Destana), Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) serta relawan di daerah. Penegakan hukum juga menjadi bagian dari upaya pencegahan terhadap praktik pembakaran lahan secara sengaja.

Masyarakat diminta menghindari aktivitas pembakaran lahan, terutama di tengah kondisi cuaca kering. Warga yang menemukan titik api maupun indikasi kebakaran dapat menyampaikan laporan melalui pusat layanan kedaruratan BPBD setempat maupun kanal Lapor Wal! yang tersedia melalui aplikasi Sakti Gemas.

Sementara itu, Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltim memperkuat koordinasi dengan BPBD dan Manggala Agni, terutama dalam penyelarasan data hotspot, perkembangan kebakaran serta dukungan personel di lapangan.

Polisi Kehutanan Ahli Madya Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Dishut Kaltim, Rahmadi, mengatakan Dishut memiliki tanggung jawab utama dalam penanganan kebakaran yang terjadi di kawasan hutan. Peran UPTD di masing-masing wilayah pun dioptimalkan untuk mempercepat respons.

“Data yang kami miliki disampaikan sebagai dukungan kepada BPBD Provinsi yang menjadi koordinator informasi. Dengan satu pintu data, informasi yang disampaikan diharapkan tidak saling tumpang tindih,” ujarnya.

Dishut Kaltim juga melakukan rekapitulasi setiap hari terhadap kegiatan pemadaman yang dilaksanakan UPTD, baik untuk kejadian di dalam maupun di luar kawasan hutan.

Menurutnya, angka luas lahan yang terdampak kebakaran belum dapat dijadikan data final karena sejumlah kejadian masih berlangsung dan proses pengukuran terus dilakukan.

“Luas area terdampak masih bergerak karena kebakaran dan penanganannya berlangsung di sejumlah lokasi. Pengukuran terus dilakukan terhadap kawasan yang mengalami kebakaran sehingga datanya akan terus diperbarui,” jelasnya.

Sejumlah operasi penanganan telah dilakukan di berbagai daerah. Pada 24 Agustus 2026, penanganan karhutla tercatat berlangsung di wilayah KPHP DAS Belayan, Desa Hambau Modang, Kecamatan Kembang Janggut, dengan luas terdampak sekitar 9 hektare.

Sehari berikutnya, KPHP Kendilo melakukan penanganan di Desa Lomu, Kecamatan Batu Engau, dengan luas sekitar 1 hektare. Penanganan juga dilakukan di Desa Tepian Batang, Kecamatan Tanah Grogot, pada area seluas 4,1 hektare.

Metode pemadaman, ditentukan berdasarkan kondisi dan karakteristik medan. Pemadaman langsung dilakukan ketika lokasi dapat dijangkau, sementara strategi lain diterapkan apabila akses menuju titik kebakaran memiliki kendala.

Patroli dan pemantauan hotspot juga terus ditingkatkan untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin. Koordinasi lintas instansi akan dipertahankan selama ancaman karhutla masih tinggi sehingga kemunculan titik api baru dapat segera ditangani sebelum meluas.

Jumpa pers tersebut turut dihadiri Kepala Diskominfo Kaltim Ririn Sari Dewi dan Plt Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Arief Murdiyatno. (*Yud)



Pasang Iklan
Top