• Jum'at, 28 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Salah satu sesi rangkaian acara Dispar Kaltim.(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Dispar Kaltim) terus membuka ruang bagi pelaku ekonomi kreatif untuk meningkatkan kemampuan sekaligus memperluas jejaring. Upaya tersebut diwujudkan melalui rangkaian Ruang Akhir Pekan yang memadukan workshop pengembangan film pendek, lomba fotografi, vlog hingga festival film.

Kegiatan berlangsung di Temindung Creative Hub, Jalan Pipit, Samarinda, pada 26-29 Agustus 2026. Khusus lomba fotografi dan vlog mengangkat tema “Ekraf Kuat, Kaltim Hebat”, sementara kegiatan perfilman menjadi ruang untuk mengangkat beragam cerita berlatar Kalimantan Timur.

Kepala Bidang Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Dahlia, mengatakan workshop pengembangan film pendek dilaksanakan selama dua hari, 26-27 Agustus 2026, dengan tema “Dari Ide Menjadi Karya”.

Materi yang diberikan tidak lagi sebatas proses awal produksi. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai penyusunan pitch deck, pembuatan teaser, strategi distribusi hingga cara menentukan festival yang sesuai dengan karakter film.

“Peserta kami bekali agar mampu menyusun pitch deck yang komunikatif dan profesional, membuat teaser yang menarik perhatian penonton, sekaligus memahami jalur distribusi film, baik konvensional maupun digital. Mereka juga dikenalkan dengan ekosistem festival dan strategi memilih festival yang tepat untuk karyanya,” kata Dahlia.

Workshop tersebut diikuti 30 peserta dengan latar belakang beragam, mulai sineas, pelaku kreatif hingga pelajar yang memiliki ketertarikan pada fotografi, sinematografi dan produksi video.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam upaya menyiapkan talenta baru perfilman Kaltim. Peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga dipertemukan dengan komunitas dan pelaku kreatif lainnya.

“Kami berharap dari kegiatan ini muncul bibit-bibit muda yang sejak awal sudah memiliki minat dan bakat. Dengan begitu, mereka bisa lebih terarah dalam mengembangkan kemampuan sekaligus menemukan komunitas yang sesuai,” ujarnya.

Workshop tersebut merupakan kelanjutan dari pembekalan sebelumnya. Jika kegiatan terdahulu lebih banyak membahas tahapan praproduksi, pelatihan kali ini diarahkan pada proses produksi hingga pascaproduksi.

Dispar Kaltim juga merancang keberlanjutan pembinaan perfilman dengan menyasar sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki kegiatan sinematografi. Salah satu konsep yang dipersiapkan adalah pemutaran film daerah sekaligus diskusi bersama pelajar dan mahasiswa.

Selain peningkatan kapasitas, kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat hubungan antara sineas, komunitas film, kreator konten dan pemangku kepentingan sehingga ekosistem perfilman Kaltim dapat berkembang melalui kolaborasi.

Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Awang Khalik, mengatakan lomba foto, vlog dan festival film dalam rangkaian Ruang Akhir Pekan mendapatkan respons cukup tinggi dari komunitas kreatif.

Tercatat sebanyak 78 karya mendaftar pada lomba fotografi, 38 karya untuk kategori vlog, sedangkan festival film menerima 111 karya. Dari lomba fotografi, tim kurator telah memilih 30 karya untuk dipamerkan, sementara karya vlog masih menjalani proses penjurian.

“Antusiasmenya datang dari komunitas sendiri, baik fotografi, video maupun film. Kegiatan ini kami harapkan memberikan semangat baru agar karya-karya mereka sekaligus mampu memperkenalkan berbagai subsektor ekonomi kreatif Kaltim,” kata Awang.

Untuk festival film pendek, Dispar Kaltim membuka tiga kategori, yakni pelajar, mahasiswa dan umum. Cerita yang diangkat diarahkan memiliki keterkaitan dengan Kalimantan Timur, mulai kehidupan masyarakat pedalaman, pesisir, lingkungan keraton hingga kehidupan masyarakat urban.

Dirinya mengatakan karya bahkan datang dari warga Kaltim yang saat ini berada di luar daerah, seperti Yogyakarta, Jakarta dan Surabaya. Sejumlah film mengangkat pengalaman kehidupan perantau sekaligus menggambarkan hubungan mereka dengan keluarga di kampung halaman.

Menurutnya, kompetisi bukan menjadi satu-satunya tujuan. Ruang tersebut juga diharapkan menjadi sarana mempertemukan komunitas agar dapat membangun jejaring, bertukar pengalaman dan memperkuat kolaborasi.

“Yang ingin dibangun bukan hanya kompetisi. Komunitas juga harus semakin kuat, saling berkomunikasi, mengikuti workshop dan memperluas jejaring. Harapannya kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut pada tahun berikutnya,” jelasnya.

Dispar Kaltim juga membuka ruang fasilitasi bagi komunitas untuk membahas berbagai persoalan di industri kreatif, termasuk standar penghargaan terhadap karya fotografer. Menurut Awang, pemerintah tidak dapat menentukan tarif secara langsung karena setiap pelaku memiliki tingkat pengalaman dan kualitas karya berbeda.

Karena itu, kesepakatan dan penguatan organisasi atau komunitas dinilai penting agar para pelaku kreatif dapat membangun standar profesional serta saling menghargai karya.

Bagi pemerintah, lanjut Awang, posisi yang dapat diambil adalah menyediakan ruang dan memfasilitasi kebutuhan komunitas, seperti seminar maupun forum diskusi. Dengan penguatan komunitas dan peningkatan kualitas karya, pelaku ekonomi kreatif diharapkan tidak hanya semakin dikenal, tetapi juga memperoleh penghargaan yang layak atas karya yang dihasilkan. (*Yud)



Pasang Iklan
Top