• Jum'at, 21 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Wakil Walikota Samarinda, Saefuddin Zuhri saat menyampaikan sambutan (atas). Kamis (20/08/2026).(Foto:Abi/KutaiRaya)

SAMARINDA,(KutaiRaya.com): Upaya membangun perekonomian masyarakat dari tingkat keluarga terus mendapat perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.

Salah satu kelompok yang dinilai memiliki peran besar dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga adalah perempuan, khususnya para ibu yang menjalankan usaha mikro dan kecil.

Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri mengapresiasi program pemberdayaan ekonomi perempuan yang dijalankan oleh Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah.

Menurutnya, pola pendampingan terhadap pelaku usaha mikro tersebut sejalan dengan semangat Pemkot Samarinda dalam memperkuat ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada kemampuan dan kemandirian keluarga.

Saefuddin mengatakan, masyarakat yang ingin meningkatkan kesejahteraan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan atau modal usaha.

Pelaku UMKM juga membutuhkan pengetahuan dan kemampuan mengelola usaha.

"Kemandirian ekonomi masyarakat tidak hanya membutuhkan akses pembiayaan, tetapi juga pendampingan, kedisiplinan, kerja keras, serta kemauan untuk terus berkembang,"kata Saefuddin saat memberikan sambutan di acara pelatihan dasar keuangan bersama Bank BTPN Syariah di Aula PKK Kota Samarinda, Kamis (20/8/2026).

Ia menilai akses terhadap pembiayaan memang dapat menjadi salah satu pintu awal bagi masyarakat untuk memulai atau mengembangkan usaha.

Namun, modal tanpa kemampuan mengelola keuangan dan usaha secara baik berpotensi tidak memberikan hasil yang maksimal.

"Jadi bukan hanya bagaimana seseorang mendapatkan modal, tetapi bagaimana modal itu dikelola, bagaimana usaha itu dijalankan dengan disiplin, dan bagaimana pelaku usaha memiliki semangat untuk terus berkembang," ujarnya.

Kegiatan pelatihan dasar keuangan ini, lanjut Saefuddin, diharapkan dapat memberikan bekal kepada para perempuan pelaku UMKM untuk memahami langkah-langkah mendasar dalam membangun usaha, mulai dari pengelolaan keuangan, penggunaan modal, hingga perencanaan pengembangan usaha menjadi bagian penting agar usaha yang dirintis dapat tumbuh secara sehat.

"Pelatihan seperti ini sangat penting karena para ibu akan dibimbing dari titik awal. Harapannya, usaha yang mereka jalankan bisa berkembang secara bertahap, dan pada akhirnya benar-benar mandiri,"tutur Saefuddin.

Orang nomor 2 di Samarinda itu juga memberikan apresiasi kepada Bank BTPN Syariah yang secara konsisten melakukan pendampingan kepada masyarakat, khususnya perempuan yang menjalankan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Ia melihat keterlibatan sektor perbankan dalam pemberdayaan masyarakat dapat memberikan dampak yang lebih luas ketika program pembiayaan disertai dengan pembinaan dan penguatan kapasitas pelaku usaha.

"Ketika ada pendampingan dan masyarakat diberikan pengetahuan untuk mengembangkan usahanya, maka peluang mereka untuk tumbuh tentu akan semakin besar," katanya.

Bagi Saefuddin, perempuan memiliki posisi strategis dalam pembangunan ekonomi keluarga.

Ketika seorang ibu memiliki usaha dan mampu mengelolanya dengan baik, manfaatnya tidak hanya dirasakan secara pribadi.

"Kalau ekonomi keluarga semakin kuat, tentu dampaknya akan dirasakan lebih luas. Karena itu, perempuan pelaku usaha harus terus diberikan ruang dan kesempatan untuk berkembang," ucapnya.

Ia mengajak para peserta pelatihan untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.

Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam pengelolaan usaha masing-masing.

Saefuddin juga berharap para peserta dapat menularkan semangat yang diperoleh kepada perempuan lain di lingkungan tempat tinggal mereka.

Sehingga semakin banyak masyarakat yang terdorong untuk berani memulai usaha dan membangun kemandirian ekonomi.

"Setelah mendapatkan pelatihan ini, saya berharap semangatnya bisa dibawa pulang dan dibagikan kepada lingkungan sekitar. Jangan berhenti pada diri sendiri, tetapi ajak juga yang lain untuk berani berusaha dan berkembang," ujarnya.

Pemkot Samarinda, kata dia, membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak dalam upaya memperkuat sektor UMKM.

Pemerintah menyadari bahwa pembangunan ekonomi kerakyatan membutuhkan kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, sektor perbankan, serta masyarakat.

Maka itu, setiap program yang memiliki tujuan meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan pelaku UMKM akan terus mendapat dukungan.

"Pemkot Samarinda sangat bangga dan siap untuk terus berkolaborasi serta memfasilitasi setiap langkah kemajuan UMKM di kota kita," tutur Saefuddin.

Menurutnya, UMKM merupakan salah satu sektor yang memiliki peran penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Banyak keluarga yang menggantungkan penghasilan dari usaha kecil yang dijalankan secara mandiri.

Dengan pendampingan yang berkelanjutan, usaha-usaha tersebut diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.

"Ekonomi kerakyatan harus dibangun dari bawah. Ketika usaha-usaha kecil semakin kuat, maka fondasi ekonomi masyarakat juga akan semakin kokoh," kata Saefuddin.

Sementara itu, Komisaris Utama BTPN Syariah, Mulya Efendi Siregar memaparkan bahwa program pendampingan yang dijalankan pihaknya di Samarinda telah menjangkau ribuan perempuan pelaku usaha.

Menurut Mulya, hingga saat ini BTPN Syariah telah melakukan pendampingan di lebih dari 1.000 sentra dengan jumlah nasabah mencapai sekitar 10.000 orang di Samarinda.

Selain itu, total pembiayaan yang telah disalurkan kepada para nasabah di daerah tersebut mencapai lebih dari Rp 37 miliar.

Ia menjelaskan angka ini tidak hanya menunjukkan besarnya pembiayaan yang telah disalurkan.

Lebih dari itu, ada proses pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan untuk membantu para perempuan pelaku usaha memahami cara mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki.

Mulya mengatakan, BTPN Syariah menempatkan pendampingan sebagai bagian penting dari proses pemberdayaan.

Sebab akses terhadap modal saja belum tentu cukup untuk menjamin usaha dapat tumbuh dan memberikan dampak terhadap kesejahteraan keluarga.

"Bagi kami, pembiayaan memang penting, tetapi itu bukan satu-satunya hal. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana para ibu memiliki kemampuan, pengetahuan dan keyakinan untuk mengembangkan usaha yang mereka jalankan," katanya.

Ia menilai perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga.

Banyak usaha mikro yang tumbuh dari rumah dan dikelola oleh para ibu, mulai dari usaha makanan, perdagangan kecil hingga berbagai jenis usaha produktif lainnya.

Potensi tersebut, menurut Mulya, perlu diberikan ruang untuk berkembang melalui pendampingan yang tepat.

Para perempuan pelaku usaha juga perlu didorong agar memiliki keberanian untuk memulai, terutama bagi mereka yang sebelumnya belum pernah menjalankan usaha secara mandiri.

"Kami percaya para ibu memiliki potensi yang sangat besar. Kadang yang dibutuhkan hanya kesempatan, pendampingan dan dorongan agar mereka berani mengambil langkah pertama," ujarnya.

Dalam proses pendampingan, BTPN Syariah terus menanamkan nilai-nilai yang dirangkum dalam BDKS, yakni Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Membantu.

Mulya menjelaskan nilai tersebut menjadi fondasi yang terus diperkenalkan kepada para nasabah perempuan.

Keberanian dibutuhkan untuk memulai usaha, sedangkan kedisiplinan diperlukan dalam mengelola keuangan dan menjalankan aktivitas usaha sehari-hari.

Kerja keras, lanjut dia, menjadi bagian dari proses untuk mengembangkan usaha, sedangkan semangat saling membantu diyakini dapat menciptakan lingkungan yang saling menguatkan di antara para anggota dalam satu sentra.

"BDKS ini bukan sekadar singkatan. Kami ingin nilai itu benar-benar menjadi kebiasaan dalam kehidupan para ibu. Berani memulai, disiplin menjalankan usaha, mau bekerja keras dan tetap tumbuh dengan semangat saling membantu," tutur Mulya.

Menurutnya, keberadaan sentra menjadi salah satu kekuatan dalam proses pemberdayaan yang dilakukan BTPN Syariah.

Para anggota tidak hanya berkumpul dalam satu kelompok, tetapi juga memiliki ruang untuk saling berbagi pengalaman dan belajar dari perjalanan usaha masing-masing.

Bagi pelaku usaha yang baru memulai, pengalaman dari anggota lain yang telah berkembang dapat menjadi sumber motivasi.

Sebaliknya, keberhasilan salah satu anggota diharapkan mampu memberikan dorongan kepada anggota lain untuk terus meningkatkan usahanya.

"Ketika para ibu tumbuh bersama dalam satu sentra, mereka tidak merasa berjalan sendiri. Mereka bisa saling belajar, saling mengingatkan dan saling memberikan semangat ketika menghadapi tantangan dalam usaha," katanya.

Sebagai salah satu contoh keberhasilan pendampingan, Mulya membagikan kisah Sentra Cendana Bangkit yang telah berdiri sejak 2016.

Pada masa awal pendampingan, modal usaha yang dimiliki masing-masing anggota berada di kisaran Rp 5 juta.

Namun, melalui proses usaha yang berjalan secara bertahap serta pendampingan yang terus dilakukan, kemampuan ekonomi para anggota mengalami perkembangan.

Saat ini modal usaha anggota Sentra Cendana Bangkit disebut telah berkembang hingga mencapai sekitar Rp 20 juta per anggota.

Pertumbuhan ini juga memberikan dampak terhadap kehidupan dan kesejahteraan keluarga para anggota.

"Sentra Cendana Bangkit ini menjadi salah satu contoh bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil,"ucap Mulya.

Ia mengatakan, perkembangan ini tidak terjadi secara instan.

Para anggota harus melalui proses belajar, membangun kebiasaan mengelola usaha, serta mempertahankan semangat untuk terus menjalankan dan mengembangkan usaha yang dimiliki.

Hasil dari proses tersebut mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari para anggota.

Sebagian di antaranya mampu membangun rumah, membeli sepeda motor, hingga mengembangkan usaha baru sebagai tambahan sumber pendapatan keluarga.

"Yang membuat kami bangga bukan hanya karena modal usahanya bertambah. Lebih dari itu, kami melihat adanya perubahan dalam kehidupan mereka," katanya.

Mulya menegaskan, cerita Sentra Cendana Bangkit menjadi gambaran bahwa usaha mikro memiliki peluang besar untuk berkembang, apabila pelakunya memiliki keberanian, kedisiplinan, kerja keras dan kemauan untuk terus belajar.

Ia berharap semakin banyak perempuan di Samarinda yang berani memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk membangun usaha produktif.

Menurutnya, usaha tidak harus selalu dimulai dengan modal besar, karena proses pertumbuhan dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan.

"Yang terpenting adalah berani memulai, mau belajar dan tidak berhenti ketika menghadapi tantangan. Dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, perubahan besar bisa terjadi," ucapnya. (abi)



Pasang Iklan
Top