• Minggu, 16 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Penjual bendera di sepanjang Jalan PM. Noor, Kota Samarinda. Sabtu (25/08/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Penjualan bendera dan atribut kemerdekaan di Kota Samarinda mengalami penurunan jelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Sejumlah pedagang bendera musiman mengaku omzet yang mereka peroleh tahun ini tidak seramai periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Padahal, momentum 17 Agustus biasanya menjadi masa panen bagi pedagang bendera.

Salah seorang pedagang bendera di Samarinda, Safri mengatakan, penurunan penjualan cukup terasa dalam beberapa pekan terakhir.

Ia menuturkan, sebelumnya omzet harian bisa mencapai sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu, bahkan jutaan.

Namun, tahun ini pendapatannya turun dan rata-rata hanya berada di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp100 ribu per hari.

“Sekarang paling banyak sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu, itupun kalau ada yang beli cukup banyak,” ujarnya, Sabtu (15/08/2026).

Menurutnya, kondisi ini membuat pedagang harus lebih bersabar menunggu pembeli.

Bahkan, pada hari tertentu pendapatan yang diperoleh jauh di bawah rata-rata.

“Pernah juga sehari cuma dapat sekitar Rp 20 ribu. Jadi memang terasa sekali penurunannya,” katanya.

Pedagang lainnya, Januar, juga merasakan kondisi serupa.

Ia mengatakan masyarakat saat ini cenderung membeli bendera sesuai kebutuhan, sehingga jumlah barang yang terjual tidak sebanyak tahun sebelumnya.

Ia berharap penjualan mulai meningkat jelang puncak perayaan HUT RI.

Sebab berdasarkan pengalaman, masyarakat biasanya mulai membeli bendera dalam jumlah lebih banyak ketika memasuki beberapa hari terakhir sebelum 17 Agustus.

“Biasanya kalau sudah dekat 17 Agustus mulai ramai. Mudah-mudahan tahun ini juga begitu, karena sekarang omzet masih sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu sehari,” tuturnya.

Menurutnya, bendera merah putih ukuran standar masih menjadi produk yang paling banyak dicari.

Sedangkan penjualan umbul-umbul dan atribut dekorasi lainnya relatif lebih lambat.

“Kami tetap berharap ada peningkatan pembeli. Kalau mendekati 17 Agustus ramai, setidaknya bisa menutup biaya sewa tempat dan modal dagangan,” ucapnya. (ABi)



Pasang Iklan
Top