• Minggu, 09 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu dari Yayasan Wadah Lumbung Inklusi, Rahmatullah Ananda Putra, Selasa (4/8/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pasca insiden puluhan murid di Desa Sebulu Ulu, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), diduga mengalami keracunan usai menyantap menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), kini
keluarga korban berharap ada kompensasi untuk meringankan beban yang mereka tanggung.

Salah satu orangtua murid, Nur Helva mengatakan, saat ini dirinya lebih fokus pada kondisi anaknya yang masih menjalani perawatan di Puskesmas Sebulu I.

Namun, selama mendampingi anaknya, keluarga juga harus menghadapi beban tambahan, terutama biaya transportasi dan kehilangan penghasilan karena tidak dapat bekerja.

Dia merupakan pekerja harian lepas. Sehingga terpaksa harus meninggalkan pekerjaan untuk menjaga dan mendampingi anaknya, otomatis tidak ada penghasilan yang diterima.

"Kalau ada kemurahan hati dari pihak penyelenggara untuk membantu biaya yang kami keluarkan, tentu kami sangat bersyukur. Yang kami pikirkan sekarang bagaimana anak bisa cepat pulih. Sementara kebutuhan selama mendampingi dia juga terus berjalan," ujar Nur Helva saat ditemui di Puskesmas Sebulu I, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, pengeluaran keluarga tidak hanya berkaitan dengan biaya perawatan, tetapi juga transportasi karena harus bolak-balik menuju Puskesmas.

Ia berharap jika nantinya terdapat bantuan atau kompensasi dari pihak terkait, maka hal itu dapat membantu meringankan beban keluarga yang terdampak.

"Saya kurang tahu soal biaya perawatan karena fokus saya hanya ke anak. Tapi dari pihak keluarga berharap kalau memang memungkinkan ada kompensasi dari penyelenggara. Bukan hanya untuk biaya pengobatan, tapi juga kerugian yang kami alami. Kami bolak-balik ke Puskesmas juga mengeluarkan biaya," ucapnya.

Anaknya saat ini duduk di kelas 4 SDN 003 Sebulu.

Selama ini, anaknya hanya sesekali mengalami keluhan, seperti flu atau demam.

Sehingga perawatan inap yang harus dijalani saat ini menjadi pengalaman pertama bagi keluarga.

Sebelumnya, anaknya belum pernah menderita penyakit berat.

Sementara itu, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu dari Yayasan Wadah Lumbung Inklusi, Rahmatullah Ananda Putra mengatakan, penanganan persoalan tersebut membutuhkan koordinasi lintas sektor.

Menurutnya, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak agar penanganan dapat berjalan cepat dan program MBG tetap terlaksana dengan baik.

"Jadi kami saling bahu-membahu agar program ini berjalan lancar," ujarnya.

Ketika ditanya mengenai pemberian kompensasi bagi murid atau keluarga yang terdampak, ia belum dapat memberikan jawaban.

Ia mengatakan, persoalan tersebut berada di luar kewenangannya sebagai kepala SPPG.

Menurutnya, terkait kompensasi terdapat pihak lain yang memiliki kewenangan untuk memberikan penjelasan.

"Untuk hal itu saya belum bisa menjawab karena mungkin ada juru bicara lain terkait hal tersebut. Saya hanya menjalankan sebagai kepala SPPG," katanya.

Kendati demikian, ia menegaskan pihak SPPG tetap terbuka untuk melakukan koordinasi dengan berbagai unsur terkait, termasuk Polsek, Koramil dan pihak kesehatan.

Koordinasi tersebut dilakukan untuk mempercepat proses penanganan terhadap persoalan yang terjadi.

"Kalau untuk hal itu di luar tanggung jawab saya. Untuk kompensasi saya belum bisa menjawab," tuturnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top