• Sabtu, 27 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi dalam ajang Pekan Ekonomi Syariah Nusantara 2026, di Atrium Pentacity Balikpapan, Sabtu (27/6/2026). (Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Peluncuran program wakaf produktif dalam ajang Pekan Ekonomi Syariah Nusantara (PESAN) 2026 di Balikpapan menjadi salah satu upaya Bank Indonesia (BI) Balikpapan menggeser cara pandang terhadap wakaf.

Wakaf selama ini identik sebagai aset sosial pasif, kini diarahkan menjadi instrumen ekonomi produktif yang mampu menghasilkan nilai tambah dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan penguatan wakaf produktif menjadi bagian dari strategi mendorong lahirnya sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil.

Menurutnya, selama ini ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi. Karena itu, penguatan ekosistem ekonomi syariah dinilai menjadi salah satu alternatif yang realistis, mengingat besarnya potensi pasar di dalam negeri.

“Ekonomi syariah ini punya basis pasar yang besar, mulai dari fesyen muslim, produk halal, sampai gaya hidup sehat. Semua itu sudah tumbuh di masyarakat,” ujar Robi ditemui usai kegiatan di Atrium Pentacity Balikpapan, Sabtu (27/6/2026).

Ia mencontohkan, industri fesyen muslim yang kini berkembang pesat serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal menjadi indikator bahwa ekosistem syariah memiliki ruang pertumbuhan yang kuat.

Namun, fokus BI tidak berhenti pada sektor konsumtif. Melalui wakaf produktif, dana sosial didorong untuk masuk ke sektor usaha riil seperti peternakan, pertanian, dan usaha berbasis komunitas.

“Wakaf tidak lagi hanya identik dengan tanah atau bangunan, tetapi bisa menjadi modal usaha produktif yang berputar dan menghasilkan nilai ekonomi,” jelasnya.

Dalam ajang PESAN 2026, BI Balikpapan meluncurkan dua proyek percontohan wakaf produktif, yakni pengembangan kandang ayam petelur di Kabupaten Paser dan penguatan usaha peternakan ayam di Pondok Pesantren Al-Banjari.

Kedua program tersebut bukan sekadar rencana, melainkan sudah melalui tahap uji coba sebelumnya. Salah satunya di Pesantren Al-Banjari yang telah lebih dulu menerima dukungan kandang dan bibit ayam, dan dinilai berhasil berjalan secara berkelanjutan.

“Modelnya sudah kita piloting. Hasilnya berjalan baik, sehingga sekarang kita scale up melalui skema wakaf produktif,” kata Robi.

Selain sektor peternakan, BI juga menargetkan pesantren sebagai pusat penggerak ekonomi baru. Pesantren didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga pusat produksi dan kewirausahaan berbasis komunitas.

Santri dan pengelola pesantren, menurut Robi, mulai dilatih untuk mengembangkan keterampilan usaha seperti peternakan dan pertanian agar memiliki kemandirian ekonomi.

Di sisi lain, BI juga menargetkan penguatan business matching antara pelaku usaha syariah dan lembaga perbankan. Nilai transaksi yang dibidik dari skema ini mencapai sekitar Rp2 miliar, dengan melibatkan perbankan seperti BNI dan Bankaltimtara.

Selain membuka akses pembiayaan, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperluas pasar produk usaha binaan BI yang turut dipamerkan dalam PESAN 2026.

Robi menegaskan, pengembangan ekonomi syariah tidak hanya menjadi program sektoral, tetapi bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional.

“Semakin kita mandiri secara ekonomi, semakin kita tahan terhadap gejolak global karena sumber daya kita ada di dalam negeri,” ujarnya.

Melalui pendekatan ini, BI Balikpapan menempatkan wakaf bukan lagi sekadar instrumen sosial, melainkan bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang lebih inklusif, produktif, dan berkelanjutan. (Las)



Pasang Iklan
Top