• Kamis, 25 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Destinasi Wisata Goa Binuang, Desa Sanggulan, Kecamatan Sebulu.(Foto: Dok.KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Destinasi wisata alam Goa Binuang yang berada di Desa Sanggulan, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, harus menghadapi tantangan akibat defisit anggaran desa.

Kondisi tersebut membuat pemerintah desa tidak dapat mengalokasikan dana untuk perawatan, pengembangan, maupun penambahan fasilitas wisata sepanjang tahun 2026.

Kepala Desa Sanggulan, Fahruddin mengatakan, keterbatasan anggaran berdampak langsung terhadap pengelolaan salah satu destinasi unggulan desa tersebut. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini tidak ada pembiayaan yang disiapkan untuk mendukung operasional maupun pengembangan kawasan wisata.

"Karena kita mengalami defisit, tahun ini tidak ada pembiayaan. Tahun-tahun sebelumnya masih ada anggaran untuk pembersihan kawasan wisata dan pengadaan alat-alat bagi kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Namun tahun ini kami tidak memiliki anggaran untuk perluasan maupun penambahan fasilitas," ujarnya pada KutaiRaya.com, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, dampak defisit anggaran cukup signifikan. Salah satu program yang terpaksa dihentikan mengenai pemembersihan area wisata dan menjaga kebersihan lingkungan Goa Binuang.

"Biasanya kami menganggarkan padat karya tunai untuk pembersihan lokasi wisata. Tahun ini tidak bisa kami anggarkan karena keterbatasan dana yang cukup besar," katanya.

Meski begitu, kunjungan wisatawan ke Goa Binuang masih terus dipromosikan oleh pemerintah desa dan Pokdarwis.

"Sekarang kami masih fokus promosi. Belum ada pungutan untuk PAD desa. Yang ada hanya biaya yang dikelola Pokdarwis untuk kebutuhan operasional mereka," jelasnya.

Dari sisi keamanan, ia memastikan kondisi Goa Binuang hingga saat ini masih aman bagi pengunjung. Namun, keterbatasan anggaran juga berdampak pada rencana peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang keamanan wisata.

"Alhamdulillah selama ini aman, tidak ada gangguan yang berarti. Sebenarnya kami juga pernah menganggarkan pelatihan keamanan karena pengamanan goa memiliki karakteristik khusus. Namun tahun ini tidak tercover karena kondisi defisit anggaran," imbuhnya.

Selain persoalan anggaran, pemerintah desa juga menghadapi tantangan lain berupa pendangkalan aliran sungai yang menjadi akses menuju kawasan Goa Binuang.

"Tantangan lainnya adalah pendangkalan sungai yang masuk ke dalam goa. Itu yang cukup kami rasakan sebagai pengelola Goa Binuang. Kalau kendala lainnya tidak ada yang terlalu signifikan," katanya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pemerintah desa masih mampu mengalokasikan dana untuk mendukung pengembangan wisata.

Ia menyebutkan anggaran padat karya tunai untuk pembersihan kawasan wisata mencapai sekitar Rp25 juta. Selain itu, desa juga menyediakan anggaran untuk pengadaan berbagai perlengkapan penunjang wisata susur sungai seperti pelampung dan perlengkapan keselamatan lainnya.

"Kami berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata kabupaten maupun provinsi, bisa merespons usulan yang sudah kami sampaikan. Sampai saat ini belum ada bantuan yang kami terima. Namun kami memahami bahwa kondisi efisiensi anggaran kemungkinan membuat program tersebut belum bisa terakomodasi tahun ini," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Desa Sanggulan, Sopian, mengaku prihatin dengan kondisi keterbatasan anggaran yang terjadi saat ini. Menurutnya, dampak efisiensi anggaran sangat dirasakan dalam upaya pengembangan destinasi wisata Goa Binuang.

"Kami tentu cukup prihatin dengan kondisi anggaran saat ini. Dampaknya sangat terasa, terutama bagi destinasi wisata yang sedang kami kembangkan. Namun kami tetap berupaya agar Goa Binuang terus berkembang meskipun dengan keterbatasan yang ada," tukasnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top