
Kepala Diarpus Kukar, M. Ridha Darmawan, Rabu (24/6/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Keberadaan perpustakaan desa di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dinilai masih belum berjalan optimal.
Kondisi ini menjadi perhatian Anggota DPRD Kukar Komisi IV, Sri Mulyani, yang menilai perpustakaan desa perlu lebih dioptimalkan karena memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi masyarakat sekaligus menjaga sejarah dan budaya lokal yang ada di desa.
Hal tersebut disampaikan Sri Mulyani saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Naskah Kuno yang digelar di Aula Serba Guna Perpustakaan Taman Pintar, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, perpustakaan desa tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga dapat menjadi pusat edukasi dan penyimpanan berbagai dokumen maupun informasi sejarah yang dimiliki masing-masing desa.
"Perpustakaan desa harus lebih dioptimalkan. Selain untuk membangun budaya literasi masyarakat, khususnya di wilayah pelosok, keberadaan perpustakaan juga dapat mendukung pelestarian sejarah dan kearifan lokal yang ada di desa," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kukar, M Ridha Darmawan, mengaku, masih banyak perpustakaan desa yang belum aktif beroperasi. Bahkan dari sejumlah perpustakaan yang sudah berjalan, persoalan sumber daya manusia atau petugas perpustakaan masih menjadi kendala utama.
"Memang saat ini jumlah perpustakaan desa yang benar-benar berjalan masih sedikit. Kemudian yang sudah berjalan pun menghadapi kendala pada petugasnya. Tidak mungkin mereka harus berada seharian penuh di perpustakaan karena juga memiliki pekerjaan lain," jelasnya.
Menurutnya, diperlukan sistem yang dapat mendukung keberlangsungan operasional perpustakaan desa, termasuk adanya penghargaan atau kompensasi bagi petugas yang menjalankan layanan tersebut.
Ia menegaskan, kompensasi tersebut tidak harus berasal dari pemerintah daerah, melainkan dapat diberikan oleh pemerintah desa sebagai bentuk apresiasi terhadap petugas perpustakaan.
"Harapannya pemerintah desa bisa memberikan penghargaan kepada orang-orang yang bekerja sebagai petugas perpustakaan desa. Ini penting agar layanan perpustakaan dapat berjalan lebih baik dan berkelanjutan," katanya.
Selain memperkuat perpustakaan konvensional, Diarpus Kukar juga terus mendorong pemanfaatan perpustakaan digital melalui aplikasi IKUKAR. Saat ini, sosialisasi penggunaan perpustakaan digital tersebut terus dilakukan ke berbagai sekolah, organisasi perangkat daerah (OPD), hingga desa-desa di Kukar.
Ia menjelaskan, perpustakaan digital menjadi solusi untuk memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan tanpa harus datang langsung ke perpustakaan.
"Dengan IKUKAR, masyarakat bisa mengakses buku kapan saja dan di mana saja selama memiliki akses internet. Ini menjadi salah satu upaya kami untuk mempermudah masyarakat desa mendapatkan bahan bacaan," ujarnya.
Ia menyebutkan, perpustakaan digital IKUKAR saat ini memiliki sekitar 120 ribu judul buku dengan total 187 ribu yang dapat diakses oleh masyarakat.
Karena itu, pihaknya terus menggencarkan sosialisasi agar masyarakat memahami cara mengakses dan meminjam buku secara digital melalui platform tersebut.
"Program ini sudah berjalan. Kami sudah melakukan sosialisasi ke beberapa sekolah dan juga OPD. Dalam satu tahun ini target kami seluruh OPD dapat dijangkau, sementara untuk sekolah dan desa setidaknya sekitar 25 persen sudah bisa kami kunjungi untuk sosialisasi," pungkasnya. (*Zar)