• Minggu, 21 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Tempat Produksi Gula Aren Kuyun di jalan Triyu 2, Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong Sabtu (20/6/2026).(Foto: Andri Wahyudi/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Di tengah kesibukannya sebagai pekerja pertamanan, Kuyun tetap meluangkan waktu mengembangkan usaha gula aren rumahan yang berlokasi di Jalan Triyu 2, Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Usaha yang dirintisnya sejak 2023 itu kini menjadi sumber penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kuyun mengaku memiliki pengalaman mengolah gula aren sejak tinggal di Bukit Biru.

Ketika menetap di Loa Ipuh, ia melihat potensi pohon aren yang cukup banyak tumbuh di lahan milik keluarga, sehingga memutuskan kembali menekuni usaha tersebut.

“Dulu saya pernah membuat gula aren di Bukit Biru. Pengalaman itu saya bawa ke sini karena di sini banyak pohon aren yang bisa dimanfaatkan. Kebetulan pohon-pohon itu ada di lahan keluarga dan memang sudah diberi izin untuk dikelola,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).

Ia menuturkan pohon aren yang dimanfaatkan bukan hasil budidaya khusus, melainkan tumbuh alami di kebun.

Saat membuka lahan, pohon-pohon tersebut sengaja dipelihara karena memiliki nilai ekonomi.

“Kalau aren ini tidak pernah ditanam khusus. Kalau ada yang tumbuh di kebun, kita pelihara karena nanti bisa menghasilkan nira untuk dibuat gula,” katanya.

Saat ini, Kuyun memanfaatkan sekitar 10 pohon aren produktif.

Namun jumlah pohon yang tumbuh di kawasan tersebut diperkirakan mencapai puluhan hingga hampir seratus pohon.

Dalam proses produksinya, ia mengambil nira setiap hari, tetapi tidak langsung mengolahnya menjadi gula.

Nira biasanya dikumpulkan selama 3 hari terlebih dahulu sebelum direbus agar hasil yang diperoleh lebih banyak.

“Kalau langsung direbus setiap hari hasilnya sedikit, paling sekitar 5 tangkup. Jadi saya kumpulkan dulu 3 hari, asal sering dipanaskan tidak akan rusak,” ujarnya.

Dari hasil produksi tersebut, Kuyun memperkirakan mampu menghasilkan sekitar 150 tangkup gula aren setiap bulan.

Produk gula aren buatannya dipasarkan secara sederhana melalui pemesanan langsung dari pelanggan dan promosi dari mulut ke mulut.

“Saya jual Rp 20 ribu per tangkup. Selama ini kebanyakan yang membeli teman-teman atau orang yang datang langsung ke rumah. Kadang ada juga pemilik warung yang mencari ke sini untuk mengambil gula,” ucapnya.

Ia menegaskan gula aren yang diproduksinya murni berasal dari nira aren tanpa campuran bahan lain.

Menurutnya, penggunaan kemiri dalam proses pembuatan hanya bertujuan membantu gula mengeras saat dicetak.

“Kalau gula saya asli. Kemiri itu memang umum dipakai supaya gula cepat mengeras, bukan untuk campuran pemanis,” katanya.

Proses pembuatan gula aren sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Nira yang telah terkumpul direbus sejak pagi hingga sore hari untuk mendapatkan tingkat kekentalan yang tepat sebelum dicetak.

“Kalau wajan penuh, mulai direbus sekitar jam tujuh pagi dan baru selesai sekitar jam empat sore. Setelah itu masih harus diaduk sampai pas baru dimasukkan ke cetakan,” tuturnya.

Meskipun membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit, Kuyun tetap menjalankan usaha tersebut karena dianggap mampu membantu perekonomian keluarganya.

Hasil penjualan gula aren digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sekaligus membantu biaya pendidikan anak-anaknya.

Selain mengelola usaha gula aren, Kuyun juga bekerja di bidang pertamanan sejak tahun 1990.

Ia mengaku kunci menjalankan dua pekerjaan sekaligus adalah kemampuan mengatur waktu.

“Yang penting bisa membagi waktu. Pekerjaan utama tetap didahulukan, sementara usaha gula aren dikerjakan sesuai waktu yang tersedia,” tuturnya.

Bagi Kuyun, usaha gula aren bukan sekadar pekerjaan sampingan, tetapi juga upaya menjaga tradisi pemanfaatan pohon aren yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan di Kukar.

Dengan mempertahankan kualitas dan keaslian produk, ia berharap usaha ini dapat terus berkembang di masa mendatang. (Dri)



Pasang Iklan
Top