
Persiapan Pelaksanaan Festival Bengen Tawai Meseq parai tahun sebelumnya.(Foto: Dok. Desa Buluq Sen)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Festival Bengen Tawai Meseq Parai di Desa Buluq Sen, Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara, dijadwalkan akan dilaksanakan pada 1 Juli 2026 mendatang.
Namun, dengan kondisi keuangan saat ini, pelaksanaan tersebut masih menjadi agenda abu-abu atau belum pasti dilaksanakan pada tepat waktu.
Festival yang mengangkat tradisi dan kearifan lokal masyarakat Dayak tersebut, kini telah ditetapkan sebagai agenda atau kalender event tahunan.
Penetapan festival sebagai agenda tahunan disambut positif oleh Pemerintah Desa Buluq Sen. Meski demikian, berbagai persiapan masih perlu dimatangkan, terutama terkait kesiapan anggaran ditengah kondisi efisiensi yang saat ini turut berdampak pada daerah.
Kepala Desa Buluq Sen, Jatung mengatakan, pihaknya pada prinsipnya siap melaksanakan festival tersebut. Namun, ia menilai perlu adanya pembahasan dan koordinasi bersama seluruh unsur masyarakat desa untuk memastikan kesiapan pelaksanaan kegiatan.
"Karena sudah ada ketetapan seperti itu, tentu kami harus merapatkan barisan terlebih dahulu untuk melihat seperti apa kesiapan kami. Kalau saya pribadi siap saja melaksanakan kegiatan ini, tetapi tentu perlu melihat kesiapan anggota dan masyarakat lainnya, apalagi mengingat kondisi anggaran saat ini yang cukup memprihatinkan akibat dampak efisiensi," ujarnya pada KutaiRaya.com, Kamis (18/6/2026).
Festival Bengen Tawai Meseq Parai merupakan upaya melestarikan tradisi gotong royong masyarakat terdahulu yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut erat kaitannya dengan aktivitas pasca panen sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian yang diperoleh.
Ia menjelaskan, pada masa lalu masyarakat belum mengenal mesin penggilingan padi. Gabah yang telah dikeringkan kemudian ditumbuk secara bersama-sama hingga menjadi beras yang selanjutnya diolah menjadi makanan pokok.
"Festival ini mengangkat kekompakan masyarakat zaman dulu. Setelah panen, masyarakat berkumpul dan bergotong royong menumbuk padi bersama sebagai bentuk rasa syukur. Dulu belum ada penggilingan padi, sehingga semua dilakukan secara manual dengan kebersamaan," ucapnya.
Tidak hanya menghasilkan beras, proses tradisional tersebut juga berlanjut pada penumbukan beras menjadi tepung yang digunakan untuk membuat berbagai makanan khas masyarakat setempat.
Sebagai pesta rakyat yang penuh suka cita dan kegembiraan, festival ini juga akan dimeriahkan dengan berbagai perlombaan dan permainan tradisional yang melibatkan masyarakat. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menarik antusiasme warga sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas.
Meski telah masuk dalam kalender event tahunan, Ia mengaku selama ini pelaksanaan festival masih mengandalkan kemampuan desa dan partisipasi masyarakat secara mandiri. Karena itu, pihaknya berharap adanya dukungan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui instansi terkait, seperti sektor pariwisata dan kebudayaan.
"Harapan kami tentu kegiatan ini bisa berjalan dengan baik pada Juli nanti. Kami berharap ada dukungan dari pemerintah kabupaten, karena festival ini juga sejalan dengan upaya pengembangan pariwisata dan pelestarian budaya daerah. Siapa tahu ada dukungan anggaran dari pemerintah daerah untuk membantu pelaksanaannya," katanya.
Sementara itu, Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo mengatakan, Festival Bengen Tawai Meseq Parai merupakan salah satu warisan budaya masyarakat yang memiliki nilai sejarah, gotong royong, serta identitas lokal yang perlu terus dilestarikan.
"Dengan kondisi anggaran saat ini, memang kita juga bingung karena anggaran, mungkin kita akan upayakan dengan cara hal lain, seperti fasilitas atau semacamnya," pungkasnya. (*Zar)