
Ilustrasi ojek pangkalan.(Dok. Medsos pinterest)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Ojek pangkalan di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) saat ini jarang diminati oleh masyarakat.
Hal ini dirasakan salah seorang ojek pangkalan, Sutrisno, yang mengaku sangat jarang mendapatkan orderan.
Ia mengatakan, saat ini masyarakat sangat jarang menggunakan ojek pangkalan, karena lebih memilih ojek online yang menggunakan aplikasi.
"Pendapatan ojek pangkalan ini sangat terasa jauh lebih menurun, dengan adanya ojek online," kata Sutrisno kepada KutaiRaya.com, Rabu (17/6/2026).
Dalam hal ini, pihaknya hanya bisa pasrah atas kondisi ini.
Pasalnya, dia tak memiliki motor bagus dan tak memahami teknologi, untuk beralih mengikuti perkembangan zaman.
"Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, hanya mengandalkan dari penghasilan ojek pangkalan," ucapnya.
Ia mengaku, dalam sehari belum tentu mendapatkan orderan melalui ojek pangkalan ini.
Jika mendapatkan orderan paling banyak sekitar Rp 200 ribu.
"Saya lebih sering menawarkan jasa kepada sejumlah pihak, baik itu antar jemput barang dan orang," ujarnya.
Menurutnya, keberadaan ojek online dapat menghancurkan mata pencahariannya.
Namun di sisi lain, driver ojek online juga ingin mencari nafkah.
"Kami berharap, adanya peran pemerintah daerah untuk memperhatikan warganya yang tak memahami teknologi dan keterbatasan fasilitas," tuturnya.
Sehingga warga itu yang awalnya berharap dari ojek pangkalan, tapi dengan adanya peran pemerintah daerah bisa terampil atau memiliki kompetensi lainnya.
Menanggapi hal itu Plt Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kukar, Dendi Irwan Fahriza menjelaskan, masyarakat bisa mengajukan permohonan pelatihan kompetensi kerja.
Namun pemerintah daerah akan melihat terlebih dahulu, melalui by name by address yang telah tercatat di Dinas Sosial sebagai penerima manfaat dari kategori desil 1-5.
"Kami masih memprioritaskan pelatihan itu kepada sasaran penerima manfaat desil 1-5," ucap Dendi. (Ary)