
Dokumentasi penyelaman di Desa Tanjung Limau, Senin (15/6/2026).(Foto: Dok. Pokdarwis Desa Tanjung Limau)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Kecamatan Muara Badak selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan wisata pantai favorit di Kabupaten Kutai Kartanegara. Tak sedikit masyarakat yang rela menempuh perjalanan jauh untuk menikmati keindahan pantai yang ada di wilayah pesisir tersebut.
Namun di balik pesona pantainya, Muara Badak ternyata memiliki destinasi wisata lain yang tak kalah menarik, seperti wisata selam yang berada di Desa Tanjung Limau.
Destinasi ini menawarkan pengalaman menyelam di berbagai spot bawah laut yang unik dan akan dipandu langsung oleh guide lokal yang berpengalaman.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tanjung Limau, Muhammad Mansur mengatakan, wisata selam ini masih memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Namun hingga saat ini, promosi yang dilakukan masih terbatas karena jumlah sumber daya manusia, khususnya pemandu selam, masih minim.
"Kami masih terbatas untuk promosi karena SDM guide kami masih sedikit. Jadi untuk kegiatan penyelaman yang sifatnya terbuka masih sebatas lokal saja," ujarnya pada KutaiRaya.com, Senin (15/6/2026).
Meski begitu, wisata selam Tanjung Limau sudah memiliki pelanggan tetap dari luar negeri, terdapat wisatawan asal Malaysia menjadi salah satu penyelam yang rutin datang ke Muara Badak karena menyukai kondisi bawah laut.
Menariknya, sejumlah titik penyelaman di Desa Tanjung Limau memiliki nama-nama unik yang diberikan oleh masyarakat setempat berdasarkan pengalaman dan cerita yang terjadi di lokasi tersebut.
Beberapa spot selam yang menjadi favorit antara lain KMM, Batu Bom, Batu Renge, dan Batu Hiu.
"Setiap spot punya sejarahnya masing-masing. Kalau Batu Hiu misalnya, di sana hampir selalu ada hiu yang terlihat saat penyelaman," sebutnya.
Untuk menjaga kondisi ekosistem bawah laut sekaligus memantau aktivitas perikanan ilegal, Pokdarwis bersama kelompok penyelam setempat rutin melakukan penyelaman monitoring.
"Minimal satu bulan sekali kami melakukan penyelaman. Kadang bisa dua kali dalam sebulan untuk monitoring, termasuk memantau aktivitas illegal fishing," katanya.
Bagi wisatawan yang ingin mencoba sensasi menyelam di Muara Badak, biaya yang ditawarkan cukup terjangkau. Paket penyelaman dibanderol sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per orang dengan jumlah minimal lima peserta.
"Peserta tinggal datang saja. Peralatan dan transportasi sudah kami siapkan. Untuk konsumsi biasanya tidak termasuk dalam paket," tuturnya.
Wisata selam yang dikelola Pokdarwis Desa Tanjung Limau juga telah mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah. Kelompok tersebut telah memiliki Surat Keputusan (SK) resmi dan berada dalam pembinaan Dinas Pariwisata Kukar.
Selain itu, beberapa anggota Pokdarwis juga telah mengikuti sertifikasi selam yang difasilitasi oleh pemerintah, meski saat ini masih berada pada tingkat dasar.
"Pada tahun 2017 lalu, pemerintah daerah melalui Bupati membantu peralatan selam yang kami gunakan untuk penanaman dan transplantasi terumbu karang," ungkapnya.
"Harapan kami, spot selam yang ada di Muara Badak ini bisa menjadi destinasi wisata yang terkenal. Potensinya sangat besar dan perlu terus dikembangkan," sebutnya.
Sementara itu, Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kukar, M. Ridha Fitrianta mengatakan, wisata selam di Desa Tanjung Limau merupakan salah satu potensi wisata yang memiliki prospek besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik unggulan di wilayah pesisir Kukar.
"Kami melihat potensi wisata selam di Tanjung Limau sangat menjanjikan. Selain memiliki spot penyelaman yang unik dan masih alami, destinasi ini juga didukung oleh keterlibatan masyarakat melalui Pokdarwis yang aktif menjaga serta mengelola kawasan wisata tersebut," tutupnya. (*Zar)