
RHQ Football academy yang tengah melakukan latihan rutin, Sabtu (13/6/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Di tengah berkembangnya minat anak-anak terhadap olahraga sepak bola, RHQ Football Academy hadir sebagai wadah pembinaan yang tidak hanya berfokus pada kemampuan jasmani dan keterampilan bermain sepak bola, tetapi juga tetap menjaga nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi utama pembentukan karakter santri.
Pembina RHQ Football Academy, Firdaus Nuzula, menjelaskan awal mula terbentuknya akademi tersebut berangkat dari keinginan untuk mewadahi minat dan bakat para santri di bidang olahraga, khususnya sepak bola.
"Awalnya kami hanya mengadakan permainan sepak bola antar kelas. Saat itu belum ada tim resmi. Namun setelah rutin mengadakan latihan setiap minggu, ternyata antusiasme anak-anak sangat luar biasa," ujarnya pada KutaiRaya.com, Sabtu (13/6/2026).
Melihat semangat yang terus meningkat, pada Oktober 2025 lalu pihaknya resmi membentuk RHQ Football Academy. Untuk meningkatkan kualitas pembinaan, RHQ juga menghadirkan pelatih berlisensi PSSI yang mendampingi para santri dalam setiap sesi latihan. Team yang dibuatnya diluar dari program sekolah.
Saat ini latihan masih dilaksanakan satu kali dalam sepekan. Namun RHQ Football Academy nantinya berencana menambah intensitas latihan menjadi tiga kali dalam seminggu, yakni setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Langkah tersebut dilakukan agar perkembangan kemampuan para santri dapat lebih maksimal.
Tujuan utama RHQ Football Academy bukan semata-mata mengejar gelar juara dalam berbagai kompetisi. Prestasi memang menjadi harapan, tetapi lebih dari itu, akademi ini ingin fokus pada pembinaan usia dini agar anak-anak memiliki dasar keterampilan sepak bola yang baik.
"Kalau target tentu ada, tetapi bagi kami juara itu bonus. Yang terpenting adalah bagaimana anak-anak bisa dibina sejak dini. Ketika mereka memiliki bakat dan minat yang menonjol, mereka bisa melanjutkan pengembangan diri di sekolah sepak bola atau akademi lainnya,"ungkapnya
Dalam proses pembinaan, metode latihan yang diterapkan juga terus berkembang. Jika sebelumnya latihan hanya berisi permainan biasa, kini para santri mendapatkan materi yang lebih terstruktur, mulai dari latihan fisik, teori permainan, hingga teknik-teknik dasar sepak bola sesuai standar pelatihan yang diberikan oleh pelatih berlisensi.
Saat ini RHQ Football Academy memiliki hampir 50 santri yang terdaftar sebagai peserta aktif. Dalam setiap sesi latihan, rata-rata sekitar 35 hingga 40 santri hadir, sementara sebagian lainnya terkadang berhalangan karena sakit atau keperluan tertentu.
Di balik perkembangan tersebut, ia mengaku tantangan terbesar dalam mengelola akademi adalah menjaga konsistensi dan keberlanjutan program. Selain itu, faktor pendanaan juga menjadi perhatian penting karena kebutuhan operasional seperti pembayaran pelatih dan pengadaan perlengkapan olahraga memerlukan perencanaan yang matang.
"Konsistensi menjadi tantangan utama. Selain itu, aspek keuangan juga sangat penting untuk mendukung keberlangsungan akademi, mulai dari membayar pelatih hingga menyediakan sarana latihan yang memadai," katanya.
Yang membedakan RHQ Football Academy dengan pembinaan sepak bola pada umumnya adalah komitmennya dalam menjaga keseimbangan antara prestasi olahraga dan pendidikan agama. Para santri yang mengikuti latihan sepak bola tetap diarahkan untuk fokus menghafal Al-Qur’an dan memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
"Kami tidak hanya ingin membina anak-anak di bidang sepak bola. Visi kami adalah mencetak atlet berprestasi yang berjiwa Qurani. Alhamdulillah, santri yang mengikuti sepak bola juga memiliki hafalan Al-Qur’an masing-masing. Ada yang sudah hafal satu juz, dua juz, bahkan sampai lima juz," ungkapnya.
Sementara itu, salah satu orang tua santri, Neneng, mengaku melihat perkembangan yang cukup signifikan pada anaknya sejak mengikuti latihan di RHQ Football Academy.
"Alhamdulillah, meskipun latihannya baru seminggu sekali, sudah terlihat peningkatannya. Awalnya anak-anak belum menguasai teknik dasar sepak bola, tetapi sekarang sudah mulai bisa dan lebih percaya diri saat bermain," ujarnya.
Menurutnya, program ini menjadi nilai tambah bagi para santri karena selain fokus pada hafalan Al Quran, mereka juga mendapatkan wadah untuk berolahraga dan mengembangkan bakat.
"Bagus sekali karena anak-anak tidak hanya belajar mengaji dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kegiatan olahraga yang positif. Kami sebagai orang tua sangat mendukung," katanya.
"Harapannya latihan bisa lebih sering supaya anak-anak semakin semangat dan kemampuan mereka terus meningkat. Apalagi RHQ sudah bisa mengadakan turnamen dalam waktu yang relatif singkat. Menurut saya itu sangat keren," tutupnya. (*Zar)