• Senin, 15 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Pelopor Kampung Bungas, Suwanto, Minggu (14/6/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Di tengah padatnya permukiman Kota Balikpapan, sebuah kampung yang berada di kawasan perbukitan Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, berhasil membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana.

Bukan dari proyek bernilai miliaran rupiah, melainkan dari iuran warga sebesar Rp2.000, dua butir telur, dan segenggam beras.

Kini kawasan itu dikenal sebagai Kampung Bungas, sebuah kampung berbasis lingkungan dan ketahanan pangan yang menjadi lokus verifikasi lapangan Lomba Aku Hatinya PKK tingkat Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2026.

Pelopor Kampung Bungas, Suwanto, mengenang perjalanan kampung tersebut yang dimulai dari pertemuan sederhana warga pada 2019.

Saat itu, warga RT 69 yang berada di bagian paling belakang Kelurahan Gunung Sari Ilir bersepakat untuk membangun lingkungan yang lebih hijau dan nyaman.

"Ketika rapat warga tahun 2019, setiap orang membawa iuran Rp2.000, dua butir telur, dan satu muk beras. Dari situ kami mulai bermusyawarah bagaimana membangun kampung yang hijau," ujarnya, Minggu (14/6/2026).

Dari pertemuan sederhana itu lahir sebuah gerakan lingkungan yang terus berkembang. Saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, warga membentuk tim kreatif untuk melakukan penyemprotan disinfektan dan membantu masyarakat sekitar.

Gerakan tersebut berlanjut dengan kegiatan kebersihan lingkungan, penghijauan, hingga pengembangan pertanian perkotaan berbasis hidroponik.

Puncaknya, pada 25 Desember 2022, empat RT bersepakat membentuk kelompok kerja lingkungan yang kemudian diberi nama Kampung Bungas.

Nama itu dipilih setelah melalui berbagai diskusi panjang sebagai simbol semangat warga menjaga lingkungan dan membangun kampung secara bersama-sama.

"Kami tidak membangun kampung dengan gedung-gedung tinggi. Kami membangunnya dari halaman rumah. Menanam satu pohon saja bagi kami adalah bentuk nyata merawat Indonesia," kata Suwanto.

Berbeda dengan banyak kawasan yang dibentuk untuk mengejar prestasi, Kampung Bungas justru dibangun terlebih dahulu sebelum mengikuti perlombaan.

Suwanto menegaskan, fokus utama warga adalah membangun karakter masyarakat yang peduli lingkungan dan mampu menciptakan ketahanan pangan keluarga.

"Kampung Bungas tidak dibangun untuk lomba. Kami membangunnya agar menjadi kampung yang nyaman dihuni. Kalau sudah nyaman dihuni, maka indikator lomba akan mengikuti dengan sendirinya," ujarnya.

Pendekatan itu terbukti berhasil. Pada 2025, Kampung Bungas untuk pertama kalinya mengikuti kompetisi lingkungan dan langsung meraih juara.

Keberhasilan tersebut menjadi pengakuan atas proses panjang yang telah dijalani warga selama bertahun-tahun.

Saat ini kawasan Kampung Bungas mencakup lima RT dengan berbagai program unggulan, mulai dari hidroponik, budidaya tanaman pangan, pengolahan sampah, hingga pengembangan usaha masyarakat.

Bahkan, warga menargetkan pembangunan 5.000 lubang tanam untuk meningkatkan produksi sayuran dan memperkuat ketahanan pangan kawasan.

Meski telah meraih berbagai penghargaan, warga Kampung Bungas belum berhenti berinovasi.

Mereka telah menyusun peta jalan pengembangan kawasan hingga 2028 dengan target menjadi kampung wisata lingkungan di Kota Balikpapan.

Konsep yang diusung adalah perpaduan antara ketahanan pangan, ekonomi kreatif, dan pariwisata berbasis masyarakat.

Suwanto membayangkan suatu saat rumah-rumah warga memiliki teras produktif, kafe kecil, kebun sayur, serta ruang edukasi lingkungan yang dapat dikunjungi masyarakat.

Target tersebut bukan tanpa tantangan. Menjaga semangat gotong royong warga menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting dibanding membangun infrastruktur.

"Kadang ada warga yang lelah, ada yang jenuh. Tapi kami belajar bahwa membangun kampung memang tidak selalu mudah. Yang penting jangan berhenti. Kalau lelah, istirahat sebentar, lalu bergerak lagi bersama-sama," ujarnya.

Bagi warga Kampung Bungas, perubahan lingkungan tidak selalu lahir dari program besar atau anggaran besar. Perubahan justru tumbuh dari konsistensi, kebersamaan, dan keberanian memulai dari halaman rumah sendiri.

Sebuah pelajaran sederhana bahwa merawat pertiwi bisa dimulai dari langkah kecil, tetapi dilakukan secara terus-menerus.

Sementara itu, Camat Balikpapan Tengah, Ariefdah Aida Kuntjoro, mengatakan keberhasilan Kampung Bungas menjadi bukti bahwa masyarakat perkotaan tetap mampu membangun lingkungan yang hijau dan produktif meski berada di kawasan padat penduduk.

Menurutnya, Kampung Bungas bukan kawasan perumahan modern, melainkan kampung murni yang tumbuh dari inisiatif warga.

"Ini bukan kawasan real estate. Ini kampung warga yang berada di tengah kota dengan kondisi geografis perbukitan. Namun masyarakat mampu mengelola lingkungannya dengan sangat baik dan kompak," ujarnya.

Ia menilai keberhasilan Kampung Bungas tidak terlepas dari kolaborasi antara warga, pemerintah, kader PKK, serta berbagai organisasi perangkat daerah yang memberikan pendampingan dan pelatihan.

"Perjalanannya tidak instan. Tidak ada lampu Aladin yang langsung mengubah semuanya. Ini lahir dari kesadaran, komitmen, dan kerja keras masyarakat yang terus dijaga selama bertahun-tahun," katanya. (Las)



Pasang Iklan
Top