
Camat Loa Janan Heri Rusnadi, Selasa (9/6/2026).(Foto: Achmad Rizki/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Angka stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencapai sekitar 15,9 persen.
Data ini berdasarkan tingkat laporan secara rutin di seluruh Puskesmas, yang diterima Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar.
Stunting ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, karena dapat menghambat tumbuh kembang anak.
Salah satu kecamatan tertinggi angka stunting di Kukar, yakni Kecamatan Loa Janan yang mencapai 572 jiwa atau 12 persen.
Camat Loa Janan, Heri Rusnadi mengatakan, penanganan stunting ini harus dilakukan secara komprehensif, baik di tingkat desa hingga kabupaten.
"Penanganan stunting ini tak bisa dilakukan sendirian baik oleh pemerintah kecamatan atau Puskesmas," kata Heri kepada KutaiRaya.com, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, penyebab dari stunting adalah pernikahan dini, ibu dengan risiko tinggi serta asupan gizi terhadap ibu hamil.
Selain itu, faktor lingkungan juga mempengaruhi terjadinya stunting, di antaranya sanitasi yang kurang layak dan lainnya.
"Stunting ini tertinggi karena banyak warga luar, yang berpindah ke Kecamatan Loa Janan. Karena wilayah kita ini berbatasan dengan wilayah lainnya," ucapnya.
Hal senada juga disampaikan Camat Anggana, Rendra Abadi.
Ia mengemukakan, pemerintah kecamatan terus berupaya menekan angka stunting di wilayahnya.
Saat ini angka stunting sekitar 100 jiwa.
"Yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting ialah pola asuh orangtua. Tumbuh kembangnya anak itu dari pola asuh orangtua, bahkan dari hari pertama kehamilan," kata Rendra.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Muffidah menjelaskan, strategi penanganan stunting di Kukar masih sama seperti sebelumnya, yakni melakukan deteksi dini, intervensi ibu hamil, pengecekan kesehatan.
Selain itu, Dinkes Kukar melakukan penimbangan serentak untuk mengidentifikasi stunting.
"Kami terus memastikan terhadap perkembangan stunting di Kukar, melalui Puskesmas," ujar Ismi.
Ia menegaskan untuk mengidentifikasi stunting dimulai dari Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), asupan gizi yang kurang dan lainnya.
"Kasus stunting kita masih di bawah nasional, tiap tahun mengalami penurunan yang menjadi 15,9 persen saat ini," tuturnya.
Melihat kasus stunting masih terjadi di Kukar, pihaknya mengimbau kepada seluruh remaja putri untuk dapat memastikan kesehatannya.
Kemudian pola makan yang teratur dengan pemenuhan gizi yang cukup.
"Sehingga dengan upaya itu, mereka siap untuk hamil dan mencegah stunting," ucapnya. (Ary)