
Plt. Kadispar Kukar, Awang Agus, Sabtu (30/5/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara belum dapat memastikan apakah agenda budaya tahunan yakni Kukar Festival Budaya Nusantara (KFBN) pada tahun 2026 ini akan tetap dilaksanakan atau tidak.
Ketidakpastian ini disebabkan oleh kondisi keuangan daerah yang saat ini masih menjadi pertimbangan dalam penyusunan prioritas program dan kegiatan pemerintah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kukar, Awang Agus mengatakan bahwa, pada dasarnya anggaran untuk KFBN telah direncanakan. Namun, realisasi pelaksanaannya masih menunggu perkembangan kondisi keuangan daerah.
"Untuk kondisi keuangan kita, saya belum bisa memastikan. Anggarannya memang sudah kita rencanakan, tetapi kalau memang kondisi keuangan memungkinkan, tentu akan kita laksanakan," ujarnya pada KutaiRaya.com, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, saat ini pemerintah daerah masih memprioritaskan sejumlah kegiatan yang dinilai prioritas dan memiliki dampak langsung kepada masyarakat.
"Karena masih ada prioritas kegiatan lain yang lebih penting," katanya.
Saat ini, salah satu program yang tetap berjalan adalah Simpang Odah Etam (SOE). Kegiatan tersebut dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam mendorong aktivitas ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Yang jalan di kita saat ini baru Simpang Odah Etam, karena ini menyentuh masyarakat. Kita lihat dampaknya luar biasa bagi UMKM di sini dan mampu menghidupkan aktivitas ekonomi," jelasnya.
Perkembangan SOE dari minggu ke minggu menunjukkan tren yang positif. Antusias masyarakat dan komunitas yang terlibat terus meningkat, sehingga pemerintah mulai memikirkan pengembangan kegiatan tersebut kedepannya.
"Kalau melihat perkembangannya dari minggu ke minggu, kelihatannya ini akan terus berkembang. Kami juga sudah mulai memikirkan apabila nanti tampilannya bertambah dan semakin banyak komunitas yang ikut berpartisipasi," ungkapnya.
Ia menegaskan, peluang KFBN masih terbuka apabila kondisi keuangan daerah membaik dan memungkinkan untuk mendukung kegiatan tersebut.
Sementara itu, kabar ketidakpastian pelaksanaan KFBN turut mendapat perhatian dari kalangan pelaku seni dan budaya di Kukar. Salah satunya datang dari Sanggar Tari Bebaya melalui perwakilannya, Dwi Sufianningrum Maulidin Niyanti.
Ia mengaku prihatin dengan kondisi yang dihadapi pemerintah daerah saat ini. Namun di sisi lain, KFBN selama ini menjadi wadah penting bagi komunitas seni dan budaya untuk menampilkan karya sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki.
"Kami memahami kondisi keuangan daerah yang sedang terbatas. Tetapi KFBN juga merupakan ruang bagi para pelaku seni dan budaya di Kukar untuk berkembang, berkreasi, dan menunjukkan hasil karya mereka kepada masyarakat," ujarnya.
Ia berharap, pemerintah daerah tetap dapat mencari solusi agar kegiatan budaya seperti KFBN tetap bisa dilaksanakan, meskipun dengan konsep yang lebih sederhana dan menyesuaikan kemampuan anggaran.
"Harapan kami tentu KFBN tetap ada, karena manfaatnya sangat besar bagi pelaku seni, budaya, dan masyarakat secara umum," tukasnya. (*Zar)