• Jum'at, 05 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Wakil Wali (Wawali) Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri. Kamis, (21/5/2026).(Foto : Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, memastikan ketersediaan gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram menjelang Hari Raya Iduladha, masih dalam kondisi aman. Namun, hasil pemantauan di lapangan menemukan adanya dugaan ketidaksesuaian timbangan, pada proses distribusi gas LPG yang kini tengah ditindaklanjuti.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena distribusi LPG subsidi, menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Ketidaksesuaian timbangan berpotensi merugikan konsumen apabila isi tabung tidak sesuai standar, sementara pengawasan distribusi dan akurasi alat ukur menjadi bagian penting, untuk memastikan subsidi pemerintah benar-benar diterima masyarakat secara utuh.

Wakil Wali (Wawali) Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri mengatakan, pihaknya bersama tim melakukan pemantauan langsung ke sejumlah titik, termasuk Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), guna memastikan distribusi berjalan normal dan tidak merugikan masyarakat.

“Pengisian di LPG ternyata ada beberapa hal yang harus kita sikapi kaitannya dengan proses mulai dari kosongnya, terus kosong juga dengan isinya itu harus disikapi,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, persoalan utama yang ditemukan berada pada alat ukur atau timbangan, yang diduga mengalami error sehingga menyebabkan perbedaan hasil pengukuran.

“Peralatan harus dikalibrasi. Itu tentunya nanti dari Satuan Tugas (Satgas) juga berkoordinasi, untuk kalibrasi dengan baik supaya masyarakat mendapatkan kejelasan,” katanya.

Ia menegaskan, proses pengawasan distribusi LPG harus dilakukan secara ketat, mulai dari tabung kosong masuk hingga tabung terisi keluar dari lokasi pengisian.

“Yang jelas mulai masuk yang kosong, berisi berapa, keluarnya berapa, isi matinya berapa, itulah yang harus kita teliti,” tegasnya.

Saefuddin menyebutkan bahwa, kondisi tersebut, diduga terjadi akibat kelalaian dalam proses kontrol alat produksi.

“Kelalaian dari produksi, kenapa sampai untuk menghitung timbangan itu sampai ada error. Seharusnya ini tidak perlu terjadi kalau kontrolnya bagus,” ujarnya.

Pemkot pun meminta pihak produsen dan operator SPBE, untuk meningkatkan pengawasan internal agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Sementara itu, Sales Branch Manager Kaltimut VII Gas Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, M Angga Dexora mengatakan, pihaknya masih melakukan pengecekan lebih lanjut terkait temuan tersebut.

“Tadi dari hasil pengecekan bersama ada beberapa hal yang perlu kita sikapi. Kami belum bisa memberikan hasilnya seperti apa, karena perlu koordinasi dulu dengan instansi terkait,” katanya.

Ia menjelaskan, dugaan ketidaksesuaian bukan berasal dari tabung LPG, melainkan dari alat timbang yang digunakan saat pemeriksaan.

“Tadi timbangannya berbeda. Nah, kita perlu cek lagi ke beberapa pihak terkait soal keakuratannya,” jelas Angga.

Menurutnya, seluruh tabung LPG yang didistribusikan, sebenarnya telah melalui proses pengecekan ketat sebelum diisi.

“Kalau tabung bocor kami tidak isikan. Ketika tabung tidak layak edar, baik dari sisi kebocoran maupun beratnya, itu langsung kami sortir,” katanya.

Ia juga memastikan, setiap tabung LPG secara berkala menjalani pengujian kelayakan.

“Kita uji tabung setiap lima tahun sekali. Tapi kalau sebelum lima tahun secara fisik sudah perlu pengecekan, maka akan langsung kami tarik,” ujarnya.

Terkait stok LPG menjelang Iduladha, Pertamina memastikan pasokan tambahan telah disiapkan, untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat.

“Yang pasti ada tambahan pasokan menjelang bulan ini,” kata Angga.

Meski demikian, ia belum dapat memastikan besaran tambahan distribusi, karena masih menunggu penyesuaian data kebutuhan di lapangan. Harga LPG 3 kilogram sendiri disebut tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET), yang ditetapkan pemerintah daerah.

“Kalau kami sendiri meminta agen dan pangkalan menjual sesuai HET,” pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top