• Kamis, 18 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Disdikbud Kukar Heriansyah, Senin (18/5/2026).(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mendorong penguatan pendidikan sejarah dan budaya lokal di sekolah melalui penerapan muatan lokal sejarah Kutai.

Program ini diproyeksikan menjadi langkah penting untuk membangun karakter generasi muda, sekaligus menanamkan semangat perjuangan para tokoh daerah sejak dini.

Kepala Disdikbud Kukar, Heriansyah, menegaskan anak-anak Kukar harus mengenal sejarah daerahnya sendiri, termasuk tokoh perjuangan dari Kesultanan Kutai Kartanegara yang memiliki kontribusi besar dalam melawan penjajahan.

Menurutnya, pengenalan sejarah tidak cukup hanya melalui buku pelajaran, tetapi juga harus dikemas lebih menarik melalui media kreatif, seperti gambar, karikatur, hingga literasi budaya yang diterapkan di sekolah tingkat SD dan SMP.

“Anak-anak harus tahu bahwa daerahnya memiliki tokoh besar yang rela meninggalkan keluarga, tahta, dan jabatannya demi melawan penjajah. Semangat perjuangan itu yang harus diwariskan kepada generasi sekarang,” kata Heriansyah, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, semangat persatuan yang ditunjukkan para pejuang terdahulu menjadi bukti bahwa masyarakat Nusantara sejak dulu memiliki tekad yang sama untuk melawan penjajahan.

Maka itu, Disdikbud Kukar menargetkan penerapan muatan lokal sejarah dan budaya dimulai dari sekolah-sekolah di Tenggarong, sebelum diperluas ke wilayah lain di Kukar.

Program ini juga akan disesuaikan dengan kesiapan tenaga pengajar dan kondisi sekolah di masing-masing daerah.

Heriansyah mengakui penerapan program masih menghadapi tantangan, terutama luasnya wilayah Kukar dan distribusi guru.

Namun ia optimistis pendidikan berbasis sejarah dan budaya lokal dapat berjalan secara bertahap hingga menjangkau sekolah-sekolah di desa.

Pada kesempatan itu, ia juga menyoroti pentingnya perhatian khusus terhadap sektor kebudayaan.

Menurutnya, beban kerja dunia pendidikan saat ini sangat besar karena harus menangani ratusan sekolah dan sekitar 12 ribu guru.

“Kutai Kartanegara punya sejarah panjang dan peradaban besar. Kebudayaan harus mendapat perhatian serius agar warisan sejarah daerah tidak hilang,” tuturnya.

Sementara itu Kepala SMP Negeri 1 Tenggarong, Imam Huzaeni, menyambut baik rencana penerapan muatan lokal sejarah Kutai di sekolah.

Ia menilai langkah tersebut penting agar murid tidak hanya mengenal sejarah nasional, tetapi juga memahami perjuangan tokoh-tokoh daerahnya sendiri.

“Harapan kami muatan lokal sejarah dan budaya Kutai bisa segera diterapkan di SMP, sehingga siswa lebih mengenal identitas daerah dan meneladani semangat perjuangan para pendahulu,” ucapnya. (Dri)



Pasang Iklan
Top