
Tugu Pembantaian Loa Kulu di Desa Loh Sumber, Selasa (19/5/2026).(Foto:Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Upaya pelestarian Tugu Pembantaian Masyarakat Loa Kulu di Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, terus dilakukan meski di tengah keterbatasan anggaran saat ini.
Pemerintah Desa Loh Sumber bersama berbagai pihak berkomitmen menjaga dan mengembangkan situs bersejarah tersebut agar dapat menjadi wisata edukasi dan sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Kepala Desa Loh Sumber, Sukirno mengatakan, monumen tersebut memiliki nilai sejarah penting yang harus terus dikenalkan kepada masyarakat.
Tugu itu menjadi pengingat peristiwa pembantaian massal yang terjadi pada masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1943 terhadap masyarakat Loa Kulu, termasuk para pekerja tambang yang saat itu bekerja di perusahaan tambang batu bara.
"Ini merupakan sejarah besar yang ada di Kecamatan Loa Kulu, khususnya di Desa Loh Sumber. Kami ingin mengenalkan kembali sejarah ini kepada masyarakat dan generasi muda agar mereka tidak melupakan perjuangan para pendahulu," ujarnya pada KutaiRaya.com, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, korban pembantaian pada masa itu kemudian dimakamkan di lokasi yang kini menjadi Tugu Pembantaian Masyarakat Loa Kulu. Monumen tersebut dibangun setelah masa kemerdekaan sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban yang gugur.
Menurut, keberadaan tugu bukan untuk menumbuhkan rasa kebencian terhadap masa lalu, melainkan menjadi sarana edukasi dan pengingat akan nilai perjuangan, pengorbanan, serta semangat persatuan.
"Kami ingin menjadikan sejarah ini sebagai motivasi dan penyemangat bagi generasi sekarang. Jangan sampai perkembangan zaman membuat kita lupa terhadap sejarah daerah sendiri," katanya.
Pemerintah desa sebenarnya telah melakukan berbagai kegiatan edukasi sejak beberapa tahun lalu, seperti apel bersama dan renungan suci yang melibatkan Muspika, pemuda, serta berbagai elemen masyarakat. Namun, upaya pengembangan sempat terhenti akibat pandemi Covid19.
"Waktu pandemi Covid-19, beberapa program memang sempat tertunda. Tetapi setelah pandemi, kami kembali berupaya menghidupkan wisata sejarah ini," jelasnya.
Saat ini, Pemerintah Desa Loh Sumber bersama Polsek Loa Kulu mulai kembali melakukan pembenahan kawasan tugu.
Beberapa waktu lalu dilakukan pembersihan area, dan dalam waktu dekat akan dilakukan pengecatan ulang agar kawasan terlihat lebih rapi dan menarik.
Selain itu, pemerintah desa juga berencana menambah sejumlah fasilitas pendukung seperti gazebo dan toilet untuk menunjang kenyamanan pengunjung.
Namun, ia mengaku keterbatasan anggaran desa menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan tersebut. Karena itu, ia berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, OPD terkait, serta seluruh stakeholder agar pelestarian situs sejarah tersebut dapat terus berjalan.
"Jangan sampai semua tanggung jawab dibebankan kepada desa saja. Ini adalah sejarah bersama yang harus dijaga bersama-sama. Kami berharap ada dukungan dari pemerintah daerah dan dinas terkait agar situs ini tidak terbengkalai," tegasnya.
Ia menambahkan, Tugu Pembantaian Masyarakat Loa Kulu juga telah tercatat sebagai bagian dari cagar budaya daerah sehingga perlu mendapat perhatian serius dalam perawatan dan pengembangannya.
Menurutnya, kawasan tersebut sebenarnya sudah layak dikunjungi sebagai wisata sejarah skala kecil. Namun, masih diperlukan pembenahan fasilitas dan perawatan agar lebih representatif sebagai destinasi edukasi sejarah.
"Tujuan utama kami adalah menjaga sejarah ini tetap hidup. Jangan sampai jasa dan pengorbanan para pendahulu dilupakan. Dari sejarah kecil seperti inilah kita belajar menghargai perjuangan kemerdekaan," tuturnya.
Sementara itu, salah satu warga sekitar, Sunarsih, mengaku bangga dengan keberadaan Tugu Pembantaian Loa Kulu ini, karena memiliki nilai sejarah penting bagi Kecamatan Loa Kulu, khususnya Desa Loh Sumber.
Ia menilai, pelestarian sejarah tersebut memang memerlukan kolaborasi dan sinergi antara pemerintah, pihak terkait, serta masyarakat sekitar.
"Kami siap untuk terus melakukan pelestarian terhadap tugu ini guna menghormati para pahlawan dan menjaga sejarah daerah agar tetap dikenang," pungkasnya. (*Zar)