• Jum'at, 05 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait meninjau langsung kawasan persawahan Gunung Binjai, Selasa (19/5/2026).(Foto: Sulastri/Kutairaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Di tengah citra Kota Balikpapan sebagai kota industri dan jasa, hamparan sawah hijau di kawasan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, justru tumbuh menjadi harapan baru bagi ketahanan pangan daerah.

Hamparan padi yang mulai menguning itu kini tidak hanya menjadi sumber penghidupan petani lokal, tetapi juga diproyeksikan sebagai salah satu lumbung pangan masa depan Kota Balikpapan.

Harapan tersebut mengemuka saat Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait meninjau langsung kawasan persawahan Gunung Binjai, Selasa (19/5/2026).

Di lokasi itu, Bagus melihat langsung perkembangan lahan sawah seluas sekitar 42 hektare yang selama ini dikelola kelompok tani setempat. Pemerintah Kota Balikpapan pun mulai memperkuat dukungan infrastruktur demi meningkatkan produktivitas pertanian.

“Pemerintah sudah membuat jalan usaha tani sepanjang dua kilometer, kemudian saluran irigasi teknis dan tersier untuk mengairi sawah seluas 42 hektare,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, Pemkot Balikpapan juga menyiapkan rencana pengembangan lahan baru seluas sekitar 56 hektare. Program lanjutan yang disiapkan meliputi pembangunan jalan usaha tani, rehabilitasi cetak sawah, hingga pengembangan jaringan irigasi.

Bahkan, pemerintah juga mulai mempertimbangkan pembangunan sumur air dalam untuk menjaga pasokan air pertanian, terutama saat musim kemarau.

“Rencana kemungkinan kita mencoba pembuatan sumur air dalam untuk membantu pengairan sawah ini,” katanya.

Di tengah upaya pengembangan tersebut, kabar baik datang dari para petani. Dalam sekitar 15 hari ke depan, padi di kawasan Gunung Binjai diperkirakan sudah memasuki masa panen.

"Kita doakan tidak ada hama dan burung yang merusak agar panen berjalan baik. Padi sudah mulai menguning," ucap Bagus.

Semangat menjaga pertanian di Gunung Binjai juga terlihat dari para petani yang tetap bertahan mengelola sawah selama belasan tahun.

Salah satunya adalah Nasir, anggota Kelompok Tani Karya Bina Bersama yang telah berkecimpung di dunia pertanian sejak 2007.
“Kalau enggak salah saya mulai tahun 2007,” kata Nasir.

Selama hampir dua dekade, ia bersama petani lain rutin melakukan panen dua kali dalam setahun. Dalam sekali panen, hasil produksi rata-rata mencapai lima ton. “Paling sering sekitar lima ton,” ujarnya.

Saat ini kelompok tani aktif mengelola lahan sekitar 40 hektare. Seluruh hasil panen dijual ke Bulog dengan harga gabah yang relatif stabil, berkisar Rp6.000 hingga Rp6.500 per kilogram.
“Harganya stabil. Selama ini masuk ke Bulog,” jelas Nasir.

Meski produksi terus berjalan, petani masih menghadapi tantangan besar, terutama serangan hama tikus yang kerap mengganggu tanaman padi.

Nasir mengaku petani belum memiliki alat pengendalian hama yang memadai dan selama ini hanya mengandalkan racun tikus. “Kalau kendala di sini banyak hama tikus. Kami belum punya alat yang memadai,” ungkapnya.

Beruntung, kondisi irigasi saat ini dinilai cukup baik sehingga kebutuhan air pertanian masih aman untuk menunjang produksi.

Di kawasan Gunung Binjai sendiri terdapat lima kelompok tani, namun hanya Kelompok Tani Karya Bina Bersama yang masih aktif mengelola persawahan secara optimal.

Melihat potensi yang ada, Pemerintah Kota Balikpapan berharap kawasan Gunung Binjai dapat terus berkembang menjadi sentra pertanian yang mampu menopang kebutuhan pangan daerah di tengah pesatnya pembangunan kota. (Las)



Pasang Iklan
Top