• Jum'at, 15 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Objek Wisata Panrita Lopi, Kecamatan Muara Badak (Foto : Andri wahyudi/kutairaya.com)


TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), memiliki potensi pariwisata yang besar dengan sedikitnya 15 destinasi wisata pantai dan pulau yang tersebar di wilayah pesisirnya.

Namun, hingga kini Pemerintah Desa (Pemdes) Tanjung Limau masih menghadapi kendala regulasi untuk mengoptimalkan sektor tersebut sebagai sumber Pendapatan Asli Desa (PAD).

Kepala Desa Tanjung Limau, Suriyandi mengemukakan, sebagian besar destinasi wisata di wilayahnya dimiliki oleh pihak swasta atau perorangan, sehingga desa belum leluasa dalam mengatur mekanisme kerja sama maupun pungutan resmi yang dapat berkontribusi terhadap PAD.

"Memang saat ini ada sekitar 14 sampai 15 destinasi wisata di Desa Tanjung Limau, tetapi rata-rata dimiliki swasta atau pribadi. Kami sudah beberapa kali berkoordinasi dengan para pemilik wisata agar bisa bekerja sama untuk meningkatkan PAD desa, namun masih terkendala aturan," ujar Suriyandi, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan, Pemerintah Desa sempat berupaya menyusun Peraturan Desa (Perdes) terkait pengelolaan dan kontribusi wisata, tetapi hasil konsultasi dengan bagian hukum masih menunjukkan adanya sejumlah persyaratan yang belum terpenuhi, terutama terkait mekanisme pungutan agar tidak menyalahi aturan.

"Kalau bukan milik desa, kami belum bisa langsung bekerja sama dalam bentuk pungutan karena dikhawatirkan dianggap pungutan liar. Padahal beberapa pemilik pantai sudah memberi lampu hijau untuk kerja sama," ujarnya.

Sejumlah destinasi wisata yang ada di Tanjung Limau, di antaranya Pantai Kurma, Pantai Panrita Lopi, Pantai Blue, Pantai Pelangi, Pantai Ceria, Pantai Pasir Putih, Nikita Beach, Pantai Sambera, hingga sejumlah pantai lain yang terus bertambah.

Selain destinasi milik swasta, adapula kawasan Pulau Pengempang seluas sekitar 30 hingga 40 hektare yang lahannya telah dibebaskan pemerintah daerah pada masa sebelumnya.

Namun, kawasan itu hingga kini belum dikelola secara optimal.

Suriyandi berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat membantu menghadirkan regulasi terpadu, termasuk pembangunan dermaga wisata khusus yang terpusat agar pengelolaan wisata lebih tertata dan memberi manfaat ekonomi bagi desa.

"Kami berharap ada model satu pintu, misalnya dermaga wisata khusus, sehingga semua bisa terintegrasi dan desa juga mendapat PAD. Saat ini hampir setiap pemilik pantai punya dermaga sendiri-sendiri," katanya.

Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Kukar, M. Ridha Fatrianta, menyebut pihaknya telah melakukan berbagai upaya pengembangan di Tanjung Limau, termasuk sertifikasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pelatihan pemandu diving.

"Di Tanjung Limau sudah ada beberapa pengelola dan Pokdarwis yang kami fasilitasi, termasuk sertifikasi diving dasar dan lanjutan karena wilayah ini punya potensi wisata bawah laut," ujar Ridha.

Dispar Kukar juga telah memberikan bantuan sarana pendukung, seperti kapal untuk aktivitas wisata diving, serta mendorong pengembangan paket wisata terpadu yang tidak hanya berfokus pada pantai, tetapi juga wisata terumbu karang dan bawah laut.

Menurut Ridha, Pulau Pengempang memiliki prospek besar sebagai destinasi unggulan karena lokasinya strategis, dekat dengan Bandara APT Pranoto Samarinda, sehingga berpotensi menarik wisatawan nusantara maupun mancanegara.

"Potensinya bukan hanya pantai, tetapi juga diving dan wisata bahari lainnya. Ini yang terus kami arahkan bersama Pokdarwis agar ke depan bisa berkembang lebih besar," ucapnya. (dri)



Pasang Iklan
Top