
Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Kalimantan dan Sulawesi, Azhari, Jumat (15/5/2026).(Foto: Ist/Kutairaya)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Kalimantan dan Sulawesi, Azhari, akan mengakhiri masa tugasnya pada 1 Juni mendatang.
Setelah puluhan tahun berkecimpung di industri hulu migas, Azhari mengaku Kalimantan Timur bukan sekadar tempat bekerja, tetapi telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
“Kalimantan Timur ini bagi saya adalah kehidupan saya. Setengah dari umur yang Allah berikan saya habiskan di Kalimantan Timur,” ujarnya saat menyampaikan pesan perpisahan di Balikpapan, pada hari Jumat, 15 Mei 2026.
Azhari memulai karier di industri hulu migas pada 2001 saat bergabung dengan Unocal Indonesia di Kota Balikpapan. Setelah bertugas di Jakarta bersama SKK Migas pada 2010 dan sempat menjabat di Badan Pengelola Migas Aceh pada 2016, ia kembali lagi ke Balikpapan untuk melanjutkan pengabdiannya di sektor energi.
Selama bertugas di Kalimantan Timur, Azhari mengaku memiliki banyak kenangan mendalam. Bahkan, salah satu anaknya lahir di Kota Balikpapan. Oleh karena itu, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, yang menurutnya telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
“Saya ingin berterima kasih kepada provinsi ini yang telah memberikan kehidupan kepada saya dan keluarga. Saya juga berterima kasih kepada semua sahabat dan teman-teman yang bersama-sama meniti kehidupan di kota ini,” katanya.
Tak hanya meninggalkan kesan personal, Azhari juga menilai dirinya mendapat kesempatan untuk berkontribusi bagi pengembangan industri hulu migas di Kalimantan Timur. Salah satunya dengan mendorong keterlibatan perusahaan lokal dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar dapat menjadi bagian dari rantai industri migas.
Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah BUMD di Kalimantan Timur mulai mendapatkan peluang untuk terlibat langsung dalam pengelolaan sektor migas, termasuk menjajaki pengelolaan sumur minyak dan gas bumi.
“Saya sudah membuka jalan dan memberikan kesempatan agar mereka bisa tumbuh. Sebagian sedang dikerjakan dan sebagian lagi akan dikerjakan,” ujarnya.
Azhari juga menyoroti kebangkitan sektor migas Kalimantan Timur dalam lima tahun terakhir. Setelah sempat mengalami penurunan produksi, wilayah Kalimantan Timur kini kembali mendapat optimisme baru dengan ditemukannya cadangan migas besar di Selat Makassar dan potensi yang masih tersimpan di Delta Mahakam.
“Alhamdulillah, dalam lima tahun terakhir Kalimantan Timur mendapatkan berkah luar biasa. Kita tahu akan ada produksi besar di Kalimantan Timur, sementara di Delta Mahakam juga masih banyak cadangan minyak dan gas bumi,” katanya.
Ia mengajak media dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga iklim positif industri migas karena sektor tersebut masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi daerah.
Selain fokus pada penguatan industri, Azhari juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan sumber daya manusia lokal. Selama tiga tahun terakhir, SKK Migas bersama pemerintah daerah dan perusahaan migas mengirim putra-putri daerah, khususnya dari Kutai Kartanegara, yang menjadi lokasi industri untuk mengikuti pelatihan pengelasan industri di Batam.
Program tersebut menyasar anak-anak dari keluarga prasejahtera dan seluruh peserta disebut berhasil terserap di industri manufaktur nasional, bahkan beberapa di antaranya diterima bekerja di perusahaan manufaktur di Singapura.
“Tidak ada lagi alasan bahwa putra-putri daerah tidak punya kemampuan. Persoalannya adalah apakah mereka diberi kesempatan atau tidak,” tegasnya.
Pelatihan itu berlangsung selama tiga bulan dengan pendidikan khusus dan sistem asrama. Bahkan sebelum pendidikan selesai, sejumlah perusahaan disebut sudah datang untuk merekrut para peserta.
Azhari mengungkapkan biaya pelatihan tersebut cukup besar, mencapai sekitar Rp300 juta per orang. Namun, ia menilai investasi tersebut penting demi menciptakan generasi baru yang mampu meningkatkan taraf hidup keluarga dan daerahnya.
“Pemerintah daerah mengambil anak-anak dari keluarga prasejahtera agar mereka bisa menjadi pionir dalam keluarganya dan membantu kehidupan ekonomi keluarganya,” ujarnya.
Usai menyelesaikan masa tugasnya di Kalimantan dan Sulawesi, Azhari akan kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan tugas akhir di SKK Migas. Posisinya nanti akan digantikan oleh Haryanto Sapri yang sebelumnya bertugas di wilayah Sumatera dan Maluku.
Azhari optimistis penggantinya mampu melanjutkan bahkan meningkatkan capaian yang telah dibangun selama ini. “Beliau orang yang sangat ramah dan baik. Saya pikir beliau bisa berbuat lebih baik lagi untuk daerah ini,” tutupnya. (Las)