
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Balikpapan, Usman Ali, Kamis (14/5/2026).(Foto: Sulastri/Kutairaya
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kota Balikpapan mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada pertengahan hingga akhir 2026. Ancaman kekeringan, berkurangnya pasokan air bersih, hingga meningkatnya risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menjadi perhatian serius.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan, Usman Ali, mengatakan pihaknya telah memperkuat langkah antisipasi melalui koordinasi lintas sektor bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan, kelurahan, hingga unsur masyarakat.
Menurutnya, edukasi kepada warga terus digencarkan agar masyarakat mulai meningkatkan kewaspadaan sejak dini, terutama terkait penghematan air dan larangan pembakaran lahan.
“Kami sudah melakukan imbauan kepada masyarakat dalam menghadapi El Nino. Penggunaan air harus dihemat, kemudian masyarakat diharapkan tidak membakar sampah ataupun membuka lahan dengan cara dibakar,” ujar Usman, pada hari Kamis (14/5/2026).
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak El Nino diperkirakan mulai terasa pada Juli hingga September 2026 dengan potensi musim kemarau lebih panjang dan penurunan curah hujan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada pasokan air bersih masyarakat, terutama apabila debit sumber air baku mengalami penurunan selama musim kemarau.
“Kekhawatiran terbesar kami adalah kekeringan. Artinya PDAM mungkin tidak bisa menyuplai air secara maksimal kepada masyarakat,” katanya.
Meski demikian, BPBD memastikan kebutuhan air bersih di Balikpapan tidak hanya bergantung pada waduk. Pemerintah juga mengandalkan sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) berbasis air tanah milik Perumda Tirta Manuntung Balikpapan untuk menopang distribusi air.
Selain ancaman krisis air, BPBD juga meningkatkan pengawasan terhadap potensi karhutla yang biasanya meningkat saat musim kemarau panjang.
Usman menyebut wilayah Balikpapan Barat dan Balikpapan Timur menjadi kawasan paling rawan kebakaran, terutama di daerah Kariangau yang masih memiliki kawasan hutan cukup luas.
“Yang sering terbakar itu daerah Barat dan Timur. Kariangau menjadi perhatian karena masih memiliki kawasan hutan,” ujarnya.
BPBD juga mewaspadai kebakaran di lahan yang mengandung batu bara, karena penanganannya jauh lebih sulit dibanding kebakaran biasa. Api dapat menyala di bawah permukaan tanah, sehingga membutuhkan proses pendinginan dan penggalian lebih intensif.
Untuk mendukung kesiapsiagaan, BPBD Balikpapan saat ini mengandalkan enam sektor pemadam yang disiagakan, untuk menjangkau titik-titik rawan kebakaran di seluruh wilayah kota.
Usman berharap masyarakat ikut berperan aktif dalam mencegah dampak El Nino dengan tidak melakukan pembakaran liar, menghemat penggunaan air, dan segera melaporkan apabila menemukan titik api di kawasan permukiman maupun hutan.
“Penanganan bencana tidak bisa hanya dilakukan pemerintah. Peran masyarakat sangat penting agar risiko kebakaran dan kekeringan bisa diminimalkan sejak awal,” tutupnya. (Las)