
Seorang anak Laki-laki di Desa Ritan Baru yang tampilkan Seni tari Kanjat Lasan.(Foto: Dok. Tiana Lahang)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Desa Ritan Baru, Kecamatan Tabang menjadi salah satu tempat pelestarian seni budaya suku Dayak Kenyah yang hingga kini masih bertahan di tengah perkembangan zaman.
Beragam tradisi terus dijaga, termasuk seni tari Kanjat Lasan yang kini telah diakui sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak Benda. Selain itu, desa ini juga dikenal dengan Tradisi budaya Mecaq Undat yang lebih dulu mendapat pengakuan yang sama.
Mayoritas masyarakat Desa Ritan Baru merupakan suku Dayak yang memiliki komitmen kuat dalam menjaga warisan leluhur.
Seni tari Kanjat Lasan menjadi salah satu bentuk ekspresi budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Pemerhati seni budaya Desa Ritan Baru, Tiana Lahang menjelaskan, Kanjat Lasan merupakan tarian tunggal yang biasanya dibawakan oleh satu orang, meskipun dalam prakteknya bisa ditampilkan hingga tiga penari.
"Pada dasarnya Kanjat Lasan adalah tarian tunggal dengan musik khas tersendiri. Dulu tarian ini dipentaskan saat kunjungan atau silaturahmi antar desa," ujarnya pada KutaiRaya.com, Rabu (29/4/2026).
Ia menuturkan, tarian ini memiliki fungsi sosial yang kuat di masa lalu. Kanjat Lasan digunakan sebagai bentuk penyambutan tamu, dimana satu penari akan tampil dan kemudian dibalas oleh penari dari pihak tamu atau tuan rumah secara bergantian, menyerupai tradisi saling berbalas pantun.
Dalam perkembangannya, aspek estetika juga semakin diperhatikan, seperti kelenturan gerak penari hingga penggunaan aksesoris tradisional. Salah satu gerakan khas dalam tarian ini adalah putaran ke kanan dan ke kiri yang memiliki makna filosofis.
"Gerakan memutar ke kanan harus diimbangi ke kiri. Filosofinya adalah bagaimana kita menyambut tamu dengan baik, lalu melepas mereka kembali dengan sukacita," jelasnya.
Aksesoris yang digunakan dalam Kanjat Lasan juga banyak makna, seperti penggunaan bulu burung enggang yang melambangkan ketegasan dan kejujuran. Dalam kepercayaan Dayak Kenyah, burung enggang dianggap sakral karena hanya memiliki dua suara, yang dimaknai sebagai simbol ketegasan dalam berkata benar atau salah.
Pada penari laki-laki, penggunaan parang juga menjadi bagian dari tarian. Parang tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai penghubung silaturahmi yang kuat dan tidak terputus.
Meski begitu, pelestarian Kanjat Lasan tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama dalam hal regenerasi. Ia mengungkapkan, minat generasi muda, khususnya remaja dan dewasa, masih menjadi kendala utama.
"Anak-anak masih mau belajar karena masih diarahkan. Tapi kalau sudah remaja, mereka mulai malu tampil sendiri. Apalagi ini tarian tunggal, butuh mental yang kuat," katanya.
Ia juga menambahkan, untuk kalangan dewasa kendala fisik seperti kekuatan lutut menjadi alasan lain berkurangnya minat untuk menarikan Kanjat Lasan.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah desa secara rutin mengadakan pentas seni setiap tahun, guna menggali potensi dan meningkatkan minat masyarakat terhadap seni budaya lokal.
"Kami ingin menjaga apa yang sudah diwariskan leluhur, merawat yang ada, dan meneruskan kepada generasi berikutnya agar budaya ini tidak hilang," tukasnya. (*Zar)