
Foto Tempe(Achmad Rizki/Kutairaya)
TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Pabrik tempe dan tahu di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), hanya bisa pasrah terhadap kenaikan harga sejumlah bahan produksi.
Salah seorang perajin tempe, Nadiva Putri mengatakan, biaya produksi mengalami pembengkakan hingga 2 kali lipat dari biasanya.
Hal ini disebabkan kenaikan harga sejumlah bahan produksi, seperti kacang kedelai menjadi Rp 585 ribu per karung, dari sebelumnya hanya Rp 550 ribu per karung.
Kemudian, harga plastik menjadi Rp 16-20 ribu per pack dan kayu bakar menjadi Rp. 350 ribu per unit mobil pikap, hingga solar menjadi Rp 130 ribu per 5 liter.
"Kenaikan harga ini telah dirasakan sejak satu bulan terakhir dan membuat perajin tempe pusing dalam menjalankan usaha ini," kata Nadiva kepada Kutairaya, Selasa (28/4/2026).
Ia menegaskan, dengan kenaikan harga biaya produksi bisa mempengaruhi penjualan menjadi menurun.
Biasanya dalam sehari memproduksi kedelai hingga 60 kg itu habis terjual, namun saat ini masih tersisa sekitar 60-80 keping tempe.
"Penjualan ini menurun karena kami dengan terpaksa mengurangi ukuran tempe. Sehingga harga penjualan tak mengalami kenaikan harga, karena jika dinaikkan harga para pelanggan tak mau," tuturnya.
Menurutnya, kenaikan harga pada bahan produksi ini dipicu akibat adanya perang dunia, sehingga berdampak terhadap seluruh jenis barang maupun jasa.
"Kami berharap, sejumlah bahan-bahan produksi tempe bisa stabil kembali. Karena dengan harga yang melonjak, pastinya keuntungan yang diperoleh sangat minim, bahkan tidak ada," ucapnya penuh harap.
Harga jual tempe per 3 keping Rp 5.000 dan tahu per bungkus Rp 2.000.
Sementara itu pelaku usaha kuliner, Rismawati menuturkan, kebutuhan tempe dan tahu setiap harinya sekitar 5-10 keping dan bungkus.
"Setiap membeli tempe harganya tetap, tapi ukurannya sedikit mengecil," ujar Rismawati. (ary)