
Muhammad Indra Ramadan guru honorer SDN 035 Kecamatan Samboja Barat.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Rencana penutupan kawasan Warung Panjang di Bukit Merdeka pada 30 April 2026 menuai kekhawatiran dari berbagai pihak, termasuk kalangan pembina olahraga.
Muhammad Indra Ramadan, guru honorer Kecamatan Samboja Barat sekaligus pembina olahraga woodball, menyampaikan aspirasi terkait dampak besar kebijakan tersebut terhadap masa depan atlet muda di wilayah tersebut.
Indra mengaku prihatin atas rencana penertiban yang dinilai berpotensi memutus pembinaan olahraga yang telah dibangun selama bertahun-tahun di kawasan Warung Panjang.
“Saya hadir di sini sebagai pembina olahraga di Samboja Barat dan Bukit Merdeka. Sejak 2011 saya aktif membina cabang olahraga woodball. Saya sangat terkejut ketika mendengar Warung Panjang akan ditutup, karena dampaknya sangat besar bagi pembinaan atlet di sana,” ujarnya, Senin (26/4/2026).
Indra menuturkan, Warung Panjang bukan sekadar kawasan tempat tinggal, tetapi juga menjadi sumber lahirnya atlet-atlet berprestasi.
Ia mengisahkan perjuangannya bersama rekan-rekan saat mengikuti seleksi nasional di Surabaya untuk persiapan SEA Games Thailand, yang sebagian besar pembiayaannya justru berasal dari dukungan masyarakat Warung Panjang.
“Dari masyarakat Warung Panjang, kami mendapat banyak bantuan. Berkat dukungan itu, saya berhasil lolos Pelatnas di Jakarta selama 8 bulan dan meraih medali perak untuk Indonesia,” katanya.
Menurutnya, dari Bukit Merdeka terdapat 4 atlet yang berangkat ke ajang nasional, terdiri dari 2 putra dan 2 putri, dengan dukungan kuat dari masyarakat setempat.
Saat ini ia juga aktif membina sekitar 10 atlet muda asli Warung Panjang di lapangan MTs Assalam Kilometer 45.
Beberapa atlet muda binaannya, di antaranya Ajis, Fabian Elsa Putra, Rahma Ginda, M. Alfian Yusuf, dan M. Fadil Kurniawan.
Selain itu, sejumlah atlet lain juga dipersiapkan untuk menghadapi kompetisi tahun ini.
Indra berharap pemerintah dan Otorita IKN tidak melakukan penutupan tanpa solusi yang jelas bagi warga, terutama bagi keberlangsungan pembinaan olahraga.
“Kami tidak menolak aturan, tetapi mohon diberikan ruang untuk berdiskusi, dibina, dan dicarikan solusi terbaik. Jangan sampai penutupan ini menghancurkan masa depan atlet-atlet muda kami,” tuturnya.
Sementara itu Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar), Pujianto, menjelaskan penertiban kawasan Tahura Bukit Soeharto merupakan kewenangan pihak terkait, sehingga pemerintah daerah tidak dapat mencampuri secara langsung.
Menurut Pujianto, perpindahan warga akibat penertiban memang berpotensi memengaruhi pembinaan anak-anak berbakat, terutama di bidang olahraga.
Namun, ia mengaku optimistis talenta para pelajar tetap dapat berkembang selama mendapat pembinaan yang tepat di lokasi baru.
“Di manapun mereka nanti tinggal, selama mendapatkan pembinaan dan pendampingan yang baik, potensi mereka tetap bisa berkembang. Yang terpenting adalah pendidikan dan pembinaan olahraga tidak terputus,” ujarnya.
Pujianto juga mendorong pihak sekolah agar terus menggali potensi pelajar melalui pembiasaan positif, termasuk aktivitas olahraga, sehingga bakat anak-anak tetap dapat berkembang, meskipun terjadi perubahan lingkungan tempat tinggal.
Ia berharap para pelajar terdampak tetap memperoleh akses pendidikan yang layak dan kesempatan untuk terus berprestasi, baik di Kukar maupun di daerah lain, jika harus berpindah domisili. (Dri)