
Arena Pacuan Kuda di Tenggarong.(Foto: Istimewa)
Pemerhati Sosial dan Budaya Kukar, Riyawan S,Hut
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pagi itu terasa begitu ramah. Matahari belum sepenuhnya naik, cahayanya masih lembut, seperti sengaja memberi ruang bagi siapa saja untuk menikmati awal hari tanpa tergesa-gesa. Aku dan istriku sudah bangun sejak subuh. Bukan karena ada pekerjaan penting, tapi karena ada satu hal yang kami tunggu dengan penuh rasa yakni pacuan kuda di Lapangan Pemuda Tenggarong.
Di masa itu, kabar seperti ini tidak datang dari layar ponsel. Tidak ada notifikasi, tidak ada status media sosial, tidak ada grup chat. Informasi menyebar dengan cara yang jauh lebih sederhana, dari mulut ke mulut. Dari tetangga ke tetangga, dari saudara ke saudara, bahkan dari orang yang lewat sambil berseru di depan rumah, “Besok ada lomba kuda!”
Dan anehnya, justru cara seperti itulah yang terasa lebih hidup. Ada rasa kebersamaan bahkan sebelum acara itu dimulai. Kami berangkat sekitar pukul delapan pagi dengan motor bebek tua kesayangan.
Warnanya biru, meski sudah mulai kusam di beberapa bagian. Tapi mesinnya masih setia, seperti hubungan kami, tidak mewah, tapi kuat dan terus berjalan.
Istriku duduk di belakang dengan rapi. Ia mengenakan baju sederhana, bukan yang baru, tapi yang paling bersih dan paling layak dari yang ia miliki.
Rambutnya tertiup angin pagi, sesekali ia merapikannya sambil tersenyum kecil. Tidak ada yang istimewa dari penampilan kami, tapi pagi itu kami merasa cukup. Bahkan lebih dari cukup.
Sepanjang perjalanan, kami tidak banyak bicara. Hanya obrolan kecil tentang cuaca, tentang kemungkinan kuda mana yang akan menang, atau sekadar bercanda ringan. Tapi di dalam diam itu, ada rasa yang sulit dijelaskan, rasa bahagia yang sederhana.
Di jalan, kami melihat banyak orang dengan tujuan yang sama. Ada yang berboncengan dengan anak, ada yang membawa keluarga lengkap. Semua menuju satu arah. Semua membawa semangat yang sama.
Sesampainya di Lapangan Pemuda, suasana sudah ramai. Anak-anak berlarian, ibu-ibu duduk di pinggir lapangan dengan alas seadanya, dan para lelaki sibuk mencari tempat terbaik untuk menonton.
Tidak ada panggung megah. Tidak ada pengeras suara canggih. Tidak ada fasilitas modern. Tapi justru di situlah letak keindahannya semua terasa apa adanya, jujur, dan hangat.
Kami menemukan tempat duduk di sebuah gundukan tanah yang agak tinggi. Istriku menggelar kain batik tua yang dibawanya dari rumah. Dari sana, kami bisa melihat lintasan dengan cukup jelas.
Kuda-kuda mulai dipersiapkan. Para joki, sebagian masih sangat muda, terlihat serius dan fokus. Suasana perlahan berubah menjadi lebih hidup. Orang-orang mulai berkumpul lebih rapat. Tawa, obrolan, dan harapan bercampur jadi satu. Hari itu, Lapangan Pemuda bukan sekadar tempat. Ia menjadi ruang di mana kebahagiaan sederhana dirayakan bersama.
Pertemuan Tak Terduga dengan Sosok yang Rendah Hati
Di tengah keramaian itu, pandanganku tertuju pada seorang pria yang berdiri tidak jauh dari kami. Penampilannya sederhana. Kemeja biasa, celana panjang, tidak ada atribut mencolok. Tidak ada pengawalan berlebihan. Jika dilihat sekilas, ia tampak seperti warga biasa.
Tapi ada sesuatu dari cara dia berdiri. Cara dia memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ada ketenangan yang berbeda. Ada aura yang tidak bisa dijelaskan, tapi terasa.
Istriku sempat berbisik pelan, “Kayaknya orangnya baik, Pak.”
Entah kenapa, aku merasa ingin menyapa. Bukan karena tahu siapa dia, tapi karena hatiku merasa nyaman untuk mendekat.
“Selamat pagi, Pak,” sapaku.
Ia menoleh dan langsung tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa dibuat-buat.
“Pagi, mas. Ikut nonton juga ya?” jawabnya santai.
Percakapan kami berjalan singkat, tapi terasa hangat. Ia bertanya dari mana kami datang, bagaimana perjalanan kami, dan naik apa ke sana.
“Naik motor bebek, Pak. Sama istri,” jawabku polos.
Ia tersenyum dan tertawa kecil. Bukan mengejek, tapi penuh kehangatan. “Yang penting semangatnya, mas.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa terasa dalam. Seolah ia tidak melihat kendaraan kami, tapi melihat usaha dan niat kami. Kami berbincang beberapa menit. Tidak ada pembicaraan besar. Tidak ada hal penting. Tapi cara dia mendengarkan, cara dia menatap, membuatku merasa dihargai.
Setelah itu, ia pamit dan berjalan menjauh. Baru beberapa saat kemudian, orang-orang di sekitar mulai berbisik.
“Itu Pak Bupati…”
“Pak Syaukani…”
Aku dan istriku saling berpandangan. Kaget. Tidak percaya. Ternyata pria yang tadi kami ajak bicara adalah Syaukani Hasan Rais. Seorang pemimpin daerah. Seorang tokoh penting. Dan kami baru saja berbincang dengannya tanpa tahu siapa dia.
Tidak ada foto. Tidak ada dokumentasi. Tapi justru itulah yang membuat momen itu terasa lebih nyata. Lebih jujur. Lebih membekas.
Tontonan, Kenangan, dan Pelajaran Hidup yang Abadi
Setelah pertemuan itu, pacuan kuda dimulai. Suasana berubah drastis. Sorakan mulai terdengar. Kuda-kuda berlari kencang di lintasan. Debu beterbangan, suara derap kaki mereka menggema seperti irama yang memompa semangat. Kami ikut larut dalam suasana. Berteriak, tertawa, tegang, dan bahagia bersama ribuan orang lainnya.
Setiap kali kuda favorit lewat, kami bertepuk tangan. Saat ada kuda yang tersandung, semua menahan napas. Dan ketika joki kecil berhasil bangkit dan melanjutkan lomba, sorakan langsung pecah lebih keras dari sebelumnya.
Hari itu bukan sekadar tontonan. Itu adalah pengalaman emosional yang dibagi bersama.
Di sela-sela itu, pedagang keliling lewat membawa gorengan, es kelapa muda, dan jajanan sederhana lainnya. Anak-anak tertawa lepas. Orang tua tersenyum sambil mengipas-ngipas. Semua orang menikmati hari dengan caranya masing-masing.
Istriku sempat berkata pelan, “Ini akan jadi kenangan, Pak.”
Dan dia benar.
Karena sampai sekarang, kenangan itu masih hidup. Masih terasa hangat. Dari hari itu, kami belajar banyak hal.
Tentang pemimpin yang merakyat, bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu berada di atas. Kadang, justru yang paling berkesan adalah ketika ia mau turun dan menyapa.
Tentang kebahagiaan sederhana, bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan. Kadang, cukup dengan kebersamaan, hati sudah penuh.
Tentang kenangan yang tidak butuh bukti, bahwa tidak semua momen harus difoto. Tidak semua harus diabadikan secara digital. Ada kenangan yang justru lebih kuat karena hanya disimpan di hati.
Dan tentang ketulusan, bahwa perhatian kecil bisa berarti besar bagi orang lain. Nilai-nilai itu sebenarnya sejalan dengan ajaran dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal...”
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia diciptakan untuk saling mengenal, bukan saling meninggikan diri. Bahwa tidak ada yang lebih mulia hanya karena jabatan atau status.
Apa yang kami rasakan hari itu adalah contoh nyata dari ayat tersebut. Seorang bupati menyapa rakyatnya tanpa sekat. Tanpa jarak. Sekarang, waktu sudah berjalan jauh. Banyak hal berubah. Teknologi berkembang pesat. Dunia terasa lebih cepat. Motor bebek kami mungkin sudah lama tidak digunakan. Rambut kami pun sudah mulai memutih.
Tapi kenangan itu tetap ada.
Masih segar. Masih hangat.
Dan setiap kali kami bercerita kepada anak dan cucu, kami selalu mengingat satu hal,
“Bahwa kami pernah bertemu seorang pemimpin yang benar-benar melihat rakyatnya sebagai manusia.”
Bukan sekadar angka. Bukan sekadar suara. Tapi manusia.
Dan itu, adalah kenangan yang tidak akan pernah usang. (Riyawan SHut)