
Pelaksanaan SOE.(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Setelah sempat lama tak terdengar, Simpang Odah Etam (SOE) akhirnya kembali hadir di Tenggarong dengan wajah baru yang lebih hidup.
Bukan hanya sekedar menghadirkan keramaian, event ini kini membawa misi untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Kehadiran kembali SOE masih disambut antusias. Lapak-lapak UMKM, pertunjukan seni, hingga aktivitas komunitas menjadi warna utama yang menghidupkan suasana.
Kepala Bidang Ekraf Dispar Kukar, Zikri Umulda mengatakan, kembalinya SOE merupakan hasil dari komitmen dan kerja serius dari berbagai pihak.
"Kita memang berkomitmen untuk menghadirkan keramaian bagi masyarakat, khususnya di Tenggarong. Tapi keramaian ini bukan sekedar ramai saja," ujarnya pada KutaiRaya.com, Sabtu (18/4/2026).
Menurutnya, konsep yang dibangun tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga dampak nyata bagi warga.
"Di keramaian itu, kita ingin menimbulkan dampak ekonomi kepada masyarakat. Jadi kegiatan seperti ini kami kelola dengan skema yang profesional," tegasnya.
Ia juga menekankan lamanya waktu persiapan bukan tanpa alasan. Banyak koordinasi lintas instansi yang harus disatukan agar acara berjalan maksimal.
"Makanya memang agak lama kami melakukan rapat dan koordinasi, sampai akhirnya SOE ini bisa hadir kembali," katanya.
"Kami berdiri di sini tidak sendiri. Ada banyak kolaborasi dari OPD dan komunitas. Ini kerja bersama," lanjutnya.
Meski begitu, bukan berarti tanpa kendala. Ia mengaku sempat ada hambatan, meski bukan hal besar.
"Kendalanya sih non teknis, soal listrik. Karena banyak tenant yang menggunakan tenaga listrik. Selain itu tidak ada masalah berarti," jelasnya.
Di tengah isu efisiensi anggaran yang sempat hadir, pihaknya tetap berupaya agar kegiatan ini tetap berjalan dan memberikan manfaat.
"Memang ada isu efisiensi, tapi kita mencoba tetap hadir untuk masyarakat. Bagaimana kegiatan ini bisa menimbulkan dampak ekonomi yang dirasakan langsung. Targetnya jelas, kita ingin SOE dikenal lebih luas. Bukan hanya di Kutai Kartanegara, tapi juga di Kalimantan, bahkan kalau bisa ke tingkat nasional," pungkasnya. (*Zar)