
Museum Kayu Tuah Himba.(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Upaya untuk menghidupkan kembali daya tarik Museum Kayu Tuah Himba di Tenggarong harus terhenti untuk tahun ini.
Program-program yang sebelumnya dirancang untuk meningkatkan kunjungan terpaksa dibatalkan akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo mengungkapkan, untuk tahun ini sebenarnya telah disiapkan sejumlah rencana. Mulai dari perbaikan tampilan museum hingga penyelenggaraan beberapa event edukatif yang menyasar pelajar.
"Sebenarnya kalau tidak efisiensi, tahun ini kan ada perencanaan. Artinya perbaikan display-display di museum kayu, kemudian ada beberapa event yang akan kami laksanakan untuk menarik pengunjung," ujarnya pada KutaiRaya.com, Jumat (17/4/2026).
Namun, kondisi anggaran membuat semua rencana tersebut tidak bisa direalisasikan. Ia mengaku, situasi ini membuat pihaknya harus diam dan menahan berbagai program yang sudah disusun.
"Dengan efisiensi ini, ya otomatis terpaksa kami diam kembali," lanjutnya.
Alih-alih menggelar kegiatan besar, Disdikbud Kukar kini memilih langkah sederhana agar museum tetap hidup. Para staf kebudayaan rutin melakukan kerja bakti, membersihkan area museum, hingga mempromosikannya melalui media sosial pribadi.
"Kami tetap berusaha agar museum ini tetap hidup. Makanya saya sering di museum kayu, mengajak teman-teman kerja bakti, gotong royong. Tahun ini kami hanya bersih-bersih dan upload di sosmed masing-masing," ungkapnya.
Padahal, sebelumnya museum ini sempat menggeliat lewat festival dan kegiatan kebudayaan. Bahkan, untuk tahun ini direncanakan ada tiga event yang melibatkan anak-anak sekolah. Sayangnya, semua itu batal.
"Harusnya tahun ini ada tiga event yang berkaitan dengan anak-anak sekolah. Tapi sepertinya tidak ada, karena efisiensi," katanya.
Menurutnya, salah satu kendala utama dalam menggelar event adalah kebutuhan biaya, termasuk untuk menghadirkan event organizer (EO). Meski tidak besar, tetap saja membutuhkan anggaran yang kini tidak tersedia.
Dari sudut pandang lain, sepinya pengunjung museum juga tidak semata-mata karena minimnya kegiatan. Faktor lokasi dan minat generasi muda turut berpengaruh.
"Letaknya di pinggiran kota Tenggarong. Bukan sulit, tapi memang tidak di pusat keramaian. Selain itu, yang dipamerkan hanya jenis-jenis kayu khas Kutai Kartanegara dan dua buaya awetan. Gen Z sekarang kurang tertarik dengan itu," ungkapnya.
Ia menilai, pendekatan kepada pelajar sebenarnya cukup efektif untuk membangun minat sejak dini. Pengalaman sebelumnya menunjukkan banyak siswa yang bahkan belum pernah mengunjungi museum.
"Waktu kami undang anak-anak sekolah, mereka kagum, bahkan ada yang tidak berani masuk. Mereka baru tahu museum itu boleh dikunjungi siapa saja, " sebutnya.
"Kami berusaha maksimal. Yang penting museum ini terlihat terawat, bersih, dan tetap menjadi tempat edukasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah," tutupnya. (*Zar)