• Jum'at, 17 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Walikota Samarinda, Andi Harun. Jumat, (17/4/2026).(Foto : Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA (KutaiRaya.com) : Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda resmi menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan, sebagai tindak lanjut arahan pemerintah pusat untuk efisiensi energi.

Penerapan Work From Home (WFH), satu hari dalam sepekan di lingkungan Pemkot Samarinda, ditujukan sebagai langkah konkret efisiensi energi dengan potensi penghematan signifikan pada konsumsi BBM, serta penggunaan sumber daya lainnya. Kebijakan ini didukung sistem monitoring digital untuk memastikan disiplin, dan produktivitas ASN tetap terjaga meski bekerja dari rumah.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengatakan, kebijakan ini diberlakukan setiap hari Jumat bagi aparatur sipil negara (ASN), di lingkungan Pemkot.

“Ini bentuk kepatuhan terhadap arahan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), untuk penghematan BBM, listrik, dan mobilitas,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Menurut Andi Harun, kebijakan WFH tidak hanya bersifat administratif, tetapi diukur secara konkret melalui sistem pemantauan berbasis digital.

Ia mengungkapkan, dari simulasi awal, penerapan WFH mampu menekan konsumsi BBM secara signifikan.

“Kalau sekitar 1.000 pegawai WFH dalam satu hari, potensi efisiensi bisa mencapai sekitar 10.800 liter BBM atau setara Rp60–70 juta,” jelasnya.

Penghitungan tersebut didasarkan pada asumsi rata-rata jarak tempuh pegawai dari rumah ke kantor, serta konsumsi bahan bakar harian.

Untuk memastikan kebijakan berjalan efektif, Pemkot Samarinda mengembangkan dashboard monitoring yang memantau berbagai indikator, mulai dari penggunaan BBM, listrik, air, hingga emisi karbon.

Selain itu, sistem ini juga digunakan untuk mengukur produktivitas ASN, selama bekerja dari rumah.

“Semua kita ukur. Dari absensi tiga kali sehari dengan geotagging, laporan harian, sampai aktivitas rapat digital,” katanya.

Andi Harun menegaskan, meski bekerja dari rumah, disiplin ASN tetap diawasi ketat. Pegawai diwajibkan mengikuti aturan kerja seperti biasa, termasuk penggunaan pakaian dinas dan pelaporan kinerja.

“Walaupun di rumah, tanggung jawab tidak boleh berkurang. Hanya beda tempat kerja saja,” tegasnya.

Pada minggu pertama pelaksanaan, Pemkot masih menemukan beberapa kendala, terutama dalam pelaporan penggunaan BBM yang belum optimal.

“Masih ada deviasi data, terutama di input pemakaian BBM. Ini akan kita evaluasi,” ungkapnya.

Andi Harun optimistis nilai efisiensi akan meningkat jika seluruh indikator, termasuk listrik dan air, dikonversi dalam bentuk rupiah.

“Kalau semua dihitung, total penghematan pasti jauh lebih besar. Ini bukti bahwa WFH bisa berdampak nyata,” pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top