
Ilustrasi kendaraan Ojol.(Foto: Medsos Pinterest)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Keberadaan jasa transportasi umum berupa bajaj melalui layanan aplikasi online Maxride di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dinilai mempengaruhi tingkat orderan bagi kompetitornya.
Salah seorang ojek online (Ojol), Rizal Khoirul mengatakan, keberadaan bajaj ini bisa menurunkan tingkat orderan para driver yang sudah berjalan selama ini.
Pasalnya, di Tenggarong sendiri sudah banyak layanan jasa transportasi umum lainnya, di antaranya, Grab, Gojek hingga Maxim.
Ia mengaku dalam sehari bisa mendapatkan orderan 10-15 customer.
Menurutnya, layanan transportasi umum bajaj bisa mengancam keberadaan driver online di Tenggarong, apalagi saat beroperasi secara rutin.
"Saya secara pribadi merasa waswas jika layanan transportasi itu dipatok harga lebih terjangkau dari lainnya," kata Rizal.
Menurutnya, keberadaan layanan transportasi umum di Tenggarong tak masalah, tapi dengan catatan, jangan menghancurkan tarif penarikan atau pengantaran.
"Karena banyak driver online yang menggantungkan nasibnya dari pekerjaan ini," ucapnya.
Menanggapi hal itu, Ketua Bajaj Kukar, Dwi Sugianto menjelaskan, layanan jasa transportasi umum bajaj ini tak mematikan jasa transportasi lainnya.
Karena layanan ini berbasis aplikasi dan titik kumpulnya terpisah dari layanan transportasi umum lainnya.
"Kita juga fokusnya kepada anak-anak sekolah, sehingga sekali angkut juga kapasitasnya bisa banyak," kata Dwi Sugianto.
"Keberadaan kami dipastikan tak mengganggu layanan transportasi umum lainnya," tuturnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kukar, Junaidi mengemukakan, pemerintah daerah menyambut baik atas segala inovasi di Kukar, termasuk transportasi umum bajaj.
"Terpenting, layanan transportasi umum itu harus mengurus izin operasi, sehingga bisa berpperasi dengan aman dan nyaman," ucap Junaidi. (Ary)