
Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih.(Foto: Abi/KutaiRaya)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda menegaskan, penanganan kasus tuberkulosis (TBC) dan HIV di kota ini, terus diperkuat melalui sistem deteksi dini dan surveilans yang dinilai sudah berjalan optimal.
Dinas Kesehatan Samarinda menegaskan bahwa, meningkatnya temuan kasus TBC dan HIV, merupakan hasil dari penguatan deteksi dini dan sistem surveilans, bukan semata lonjakan jumlah penderita. Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan penanganan lebih cepat dan efektif, sekaligus menunjukkan bahwa pengendalian penyakit di Kota Samarinda berjalan melalui sistem monitoring, yang terstruktur dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih, menyampaikan terkait meningkatnya angka temuan kasus TBC dan HIV, bukan semata karena lonjakan penderita, melainkan hasil dari intensifikasi pemeriksaan di lapangan.
“Jangan langsung diasumsikan meningkat itu berarti kasusnya bertambah. Justru karena kita menemukan lebih cepat. Prinsipnya di kesehatan, semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Ismed menjelaskan, TBC dan HIV merupakan bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM), yang wajib ditangani oleh pemerintah daerah.
“Dari 12 SPM yang ditetapkan Kementerian Kesehatan, dua di antaranya adalah penyakit menular yaitu TBC dan HIV. Jadi ini memang prioritas,” katanya.
Ia menambahkan, salah satu indikator utama dalam penanganan TBC adalah tingkat penemuan kasus. Rata-rata nasional masih berada di bawah 70 persen, sementara Samarinda telah melampaui angka tersebut.
“Samarinda sudah di atas 70 persen untuk penemuan kasus TBC. Artinya sistem deteksi kita berjalan dengan baik,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ismed menekankan bahwa, Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kinerja sistem surveilans yang dimiliki Dinkes Samarinda. Bahkan, pada tahun lalu, Surveilans Kota Samarinda mendapat penghargaan, sebagai yang terbaik di Kalimantan Timur dari Kementerian Kesehatan.
“Surveilans kita termasuk yang terbaik. Bahkan ada tenaga kami yang diberi kesempatan belajar ke Jepang selama dua bulan, untuk memperdalam sistem surveilans,” ungkapnya.
Ia menilai, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengendalian penyakit di Samarinda tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pada sistem monitoring dan pelaporan yang akurat.
Di tengah dinamika kebijakan, termasuk potensi perubahan pembiayaan layanan kesehatan, Ismed memastikan pelayanan terhadap pasien TBC dan HIV tetap menjadi prioritas.
“Yang jelas dari sisi kesehatan, pelayanan tidak boleh terganggu. Kita akan tetap melayani, terutama pasien dengan kondisi kronis,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa, penanganan kedua penyakit ini membutuhkan kerja sama lintas sektor, tidak hanya dari Dinas Kesehatan, tetapi juga dukungan masyarakat dalam hal kesadaran untuk memeriksakan diri sejak dini.
“Kesadaran masyarakat itu kunci. Deteksi dini itu penting, supaya pengobatan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” pungkasnya. (*Abi)