• Kamis, 16 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Karyawan Toko Agen Plastik STP Suryanata Plastik, Junaedin.(Foto: Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Kenaikan harga plastik global mulai berdampak ke pelaku usaha di Kota Samarinda. Sejumlah bahan kemasan seperti kantong plastik, gelas, hingga wadah makanan mengalami lonjakan harga mulai dari perlahan hingga signifikan sejak Ramadan 2026.

Kenaikan harga plastik global mulai memberi tekanan pada pelaku usaha di Samarinda, terutama Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner yang bergantung pada kemasan sekali pakai. Lonjakan harga bahan baku, yang sebagian besar impor membuat biaya produksi meningkat dan ketersediaan barang terbatas, sehingga pelaku usaha dihadapkan pada pilihan menaikkan harga atau menekan keuntungan, sementara pemerintah mendorong penggunaan alternatif kemasan sebagai solusi jangka panjang.

Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kota Samarinda Bidang Ekonomi, Marnabas menyebutkan bahwa, saat ini pihak pemerintah masih melakukan kajian, terkait kenaikan tersebut sebelum mengambil langkah kebijakan.

“Kita masih investigasi kenapa harga plastik bisa naik setinggi ini. Kalau sekarang mungkin terasa pelan - pelan, tapi dalam jangka panjang pasti berdampak,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Ia menilai, plastik memang bukan kebutuhan utama, namun kenaikannya tetap berpengaruh terhadap sektor usaha, khususnya UMKM.

“Ini bukan kebutuhan pokok seperti cabai atau bawang, tapi tetap berdampak karena digunakan hampir di semua usaha,” katanya.

Di tingkat pelaku usaha, dampak kenaikan sudah mulai dirasakan. Junaidin, karyawan toko STP Suryanata Plastik di Jalan Suryanata, mengatakan harga plastik melonjak sejak awal Ramadan.

“Awalnya sekitar Rp55 ribu per ikat, sekarang sudah Rp90 ribu. Naiknya pelan-pelan, tapi sekarang terasa sekali,” ujarnya.

Ia menerangkan, jika kenaikan tidak hanya terjadi pada plastik kresek, tetapi juga pada gelas plastik, wadah makanan, hingga kertas nasi.

“Yang paling terasa plastik kresek. Dari Rp12 ribu bisa jadi Rp18 ribu sampai Rp20 ribu per paket,” jelasnya.

Menurutnya, ketersediaan barang juga mulai terbatas, karena sebagian besar bahan baku masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Barangnya juga agak susah. Kadang sudah pesan, tapi dibatalkan karena stok dari luar terbatas,” katanya.

Hal serupa disampaikan Ilham, karyawan toko plastik CV. Lancar di Jalan Perniagaan. Ia menyampaikan, kenaikan harga dipicu oleh naiknya bahan baku plastik, yang sebagian besar masih impor.

“Dari sebelum puasa sudah mulai naik. Sekarang bisa sampai 50 persen lebih, karena bahan bakunya dari luar negeri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bahan dasar plastik berasal dari turunan minyak bumi, sehingga ikut terdampak kondisi global.

“Karena bahan baku plastik itu turunan minyak, jadi kalau ada gejolak global seperti perang, pasti berpengaruh ke harga,” katanya.

Kenaikan harga plastik berdampak langsung pada pelaku UMKM, terutama di sektor kuliner yang bergantung pada kemasan sekali pakai.

“Pasti omzet turun. Walaupun margin naik, tapi pembeli juga menyesuaikan. Jadi yang paling terasa itu di konsumen,” katanya.

Sebagian pedagang terpaksa menaikkan harga jual, sementara lainnya memilih menahan harga agar tetap terjangkau.

“Ada yang naikkan harga, ada juga yang tidak karena kasihan pembeli,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Setda Samarinda, Nadya Turisna mengimbau, masyarakat dan pelaku usaha mulai beralih ke bahan kemasan alternatif.

“Kalau tidak mau mahal, ya bisa bawa tas sendiri, atau gunakan kemasan ramah lingkungan,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah tidak bisa melarang penggunaan plastik secara langsung, namun dapat mendorong perubahan perilaku konsumsi.

“Pilihan ada di masyarakat. Tapi kita terus mengajak untuk lebih bijak dalam penggunaan plastik,” katanya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top