
Pemdes Genting Tanah sidak pengecer BBM.(Foto: Dok. Pemdes Genting Tanah)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Warga Desa Genting Tanah, Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengeluhkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite mengalami lonjakan menjadi Rp 22 ribu per liter.
Lonjakan harga BBM jenis pertalite itu terjadi dalam 3 hari terakhir, diduga karena kelangkaan BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Salah seorang warga Desa Genting Tanah, Muhammad Agus mengatakan, kenaikan harga BBM jenis pertalite ini tak wajar.
Pasalnya, pertalite ini merupakan BBM bersubsidi oleh pemerintah.
"Sehingga harga BBM pertalite itu sama, di hampir semua SPBU Indonesia," kata Agus kepada Kutairaya, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, meskipun ada perbedaan harga di pengecer BBM dan SPBU, seharusnya tidak terlalu jauh beda.
"Kami memaklumi para pengecer BBM mengambil keuntungan sebagai jasa angkut dan antre di SPBU, tapi jangan terlalu jauh siginifikan dengan harga di SPBU," ucapnya.
Ia mengemukakan, harga BBM pertalite biasanya hanya Rp 13-14 ribu, tapi saat ini di atas Rp 20 ribu per liter.
"Kenaikan BBM ini sangat membebani masyarakat," ujarnya.
Dia berharap pemerintah desa, kecamatan dan daerah bisa melakukan pengawasan terhadap penjualan BBM di Kukar, termasuk Genting Tanah, sehingga harga BBM di sini bisa stabil.
Menanggapi hal ini, Kepala Desa Genting Tanah, Junaidi telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah pengecer BBM pertalite.
Dari hasil sidak itu, ada beberapa pengecer BBM yang mematok harga BBM pertalite tidak wajar mencapai Rp 22 ribu per liter.
"Kami bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas telah sidak dan menegur para pengecer BBM untuk tidak mematok harga tak wajar," kata Junaidi.
Dari hasil sidak itu, ia tak menemukan praktik penimbunan BBM yang mengakibatkan kelangkaan.
Kelangkaan ini diduga terjadi karena adanya pembatasan pembelian di SPBU.
"Alasan kenaikan harga BBM ini karena biaya operasional pengecer itu tinggi dalam mengangkut BBM itu," ucapnya.
Ia menegaskan tak ingin tahu apapun alasannya, yang terpenting penjualan BBM bersubsidi itu kembali ke harga normal, yang masih dijangkau masyarakat.
"Jika masih ada ditemukan pengecer yang menjual BBM pertalite dengan harga tinggi, maka pihak kepolisian yang akan melakukan penindakan," ucapnya. (Ary)