• Selasa, 21 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kutai Kartanegara raih Terbaik I Tingkat Kabupaten/Kota Prevalensi Stunting Terendah Tahun 2024 se Kalimantan Timur.(Foto: Dok. Humas Pemkab Kukar)

Oleh : Widha Riduan (Pemred Kutairaya.com)

Masalah Stunting menjadi perhatian khusus yang menjadi fokus pemerintah Indonesia termasuk di daerah, salah satunya di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Untuk diketahui, Stunting menyebabkan efek yang serius terhadap kesehatan dan perkembangan anak-anak. Terjadinya Stunting ini, berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan, kematian dan perkembangan otak subobtimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental. Negara-negara dengan tingkat Stunting yang tinggi menandakan adanya masalah gizi kronis dan kurangnya akses terhadap layanan kesehatan dan gizi yang memadai.

Prevalensi balita Stunting merupakan indikator untuk menilai masalah gizi pada kelompok balita di suatu wilayah atau negara. Semakin tinggi nilai prevalensi, semakin serius dan mendesak perluasan upaya untuk mengatasi masalah tersebut.

Di Kutai Kartanegara, penanganan Stunting telah mendapatkan pengakuan Nasional,ini dibuktikan saat Drs. Edi Damansyah, M.Si, Bupati Kutai Kartanegara periode 2021-2025, meraih penghargaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting 2025 (Genting 2025) peringkat Gold kategori perorangan.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd dalam acara Genting Collaboration Summit (GCS) tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Kemendukbangga/BKKBN di Jakarta, Rabu (10/12/2025) lalu.

Penghargaan ini memang patut diberikan untuk Kutai Kartanegara yang memang berkomitmen terhadap penanganan stunting.

Dari data redaksi, penanganan Stunting di Kutai Kartanegara diawali program Inovasi Gerakan Keluarga Peduli Pencegahan dan Atasi Stunting (Raga Pantas) yang berhasil menghantarkan Kabupaten Kutai Kartanegara mencatat sejarah baru dalam menurunkan angka stunting.

Raga Pantas sudah dimulai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar pada 2021 lalu. Yang dilaunching sebagi konsep besar penanganan stunting di Kutai Kartanegara.

Inovasi ini terdiri dari lima Pantas, yaitu Pantas Sehat, Pantas Pendidikan, Pantas Pangan, Pantas Tempat Tinggal dan Pantas Sejahtera.

Setahun kemudian, Kutai Kartanegara menerapkan konsep orang tua asuh demi mendukung penanganan stunting, dan konsep ini ternyata lebih dulu dilaksanakan Kutai Kartanegara daripada konsep nasional yang sama yang baru dilaksanakan tahun ini, dan konsep ini lagi-lagi berhasil dalam menurunkan angka stunting.

Selanjutnya, ditahun 2024, Kutai Kartanegara mencanangkan, gerakan bersama Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal bagi Balita dengan permasalahan gizi, serta pembagian Kartu BPJS Kesehatan. Pencanangan ini dilaksanakan di Kecamatan Muara Wis pada 29 Juli 2024.

Program PMT di Kukar mencakup pemberian makanan bergizi dan suplemen vitamin kepada balita yang terdata mengalami kekurangan gizi. Tidak hanya fokus pada pemberian asupan gizi tambahan, program ini juga meningkatkan pengetahuan keluarga tentang pola makan sehat dan seimbang.

Dan Alhamdulillah, dari berjalannya waktu, sejak 2021 sampai 2024, penanganan stunting di Kutai Kartanegara setiap tahun alami penurunan.

Tercatat, Kabupaten Kukar berhasil menurunkan angka stunting, dari 27,1 persen pada 2022, turun menjadi 17,6 persen pada 2023. Keberhasilan ini berkat penanganan secara konvergensi. Bukan cuma Raga Pantas, berbagai macam program dikonsepkan untuk mencapai zero stunting.

Di tahun 2024, angka stunting Kutai Kartanegara mengalami penurunan signifikan. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI),pada tahun 2024 angka stunting di Kukar mencapai 14,2 persen.

Terakhir, Kutai Kartanegara raih Terbaik I Tingkat Kabupaten/Kota Prevalensi Stunting Terendah Tahun 2024 se Kalimantan Timur (Kaltim).

Dan saat ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara terus berupaya menangani kasus Stunting di wilayahnya.

Dari tim redaksi yang mewawancarai langsung Plt Kepala Bidang (Kabid) Sosial dan Budaya (Sosbud) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kukar Saiful Bahri, bahwa penanganan stunting di Kukar terus dilakukan menggunakan berbagai cara baik memberi makan bergizi gratis (MBG) kepada balita.

Selain itu, pengecekan kesehatan ibu hamil dan balita di Posyandu dan lainnya. Penanganan stunting itu terdiri 11 pilar diantaranya, memiliki komitmen, kampanye perubahan perilaku dan pemberdayaan.

Kemudian, program kemitraan, ketahanan pangan dan gizi, peningkatan kapasitas SDM terkait pemahaman keluarga terhadap perilaku hidup sehat.

Dari data Ketua Tim Kerja Peningkatan Gizi Keluarga dan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, kasus stunting di Kukar tersebar di seluruh Kecamatan. Namun kasus Stunting saat ini yang tertinggi berada di zona hulu dan pesisir. Kecamatan tinggi stunting seperti Kecamatan Muara Wis, Muara Muntai dan Kenohan.

Stunting merupakan ancaman serius bagi masa depan daerah karena dapat menghambat potensi anak, baik dari sisi pertumbuhan fisik, kecerdasan, maupun produktivitas di masa depan.

Stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi isu besar pembangunan sumber daya manusia. Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki gangguan perkembangan otak, rendahnya kemampuan belajar, serta produktivitas yang menurun ketika dewasa. Kondisi ini pada akhirnya dapat memperlambat laju pembangunan daerah jika tidak ditangani secara serius dan terukur.

Alhasil, Komitmen Kutai Kartanegara dalam penanganan stunting di Kukar ini tentunya dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas di Kutai Kartanegara dan patut diapresiasi semua pihak. (TAJ/One)



Pasang Iklan
Top