
Kesenian Kuda Gepang di Kecamatan Muara Muntai.(Foto: Dok. Google)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Ditengah derasnya arus modernisasi dan minimnya regenerasi pelaku seni tradisional, salah satu warisan budaya dari Kecamatan Muara Muntai tetap berdiri tegak.
Kuda Gepang, seni pertunjukan ini bukan sekedar hiburan, melainkan identitas budaya yang kini bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda dan terus diperjuangkan agar tidak hilang.
Seni ini berada di Kecamatan Muara Muntai khususnya di Desa Muara Muntai Ulu yang masih melestarikan.
Kepala Desa Muara Muntai Ulu, Husain menegaskan bahwa, Kuda Gepang masih hidup dan terus dilestarikan di tengah masyarakat.
"Kalau ada acara adat, seperti pernikahan atau penyambutan pengantin, Kuda Gepang selalu jadi pembuka. Itu sudah jadi tradisi kami," ujarnya pada KutaiRaya.com, Rabu (8/4/2026).
Tak hanya di lingkup desa, Kuda Gepang juga tampil di panggung yang lebih besar, seperti Erau di Tenggarong, kesenian ini masih dipercaya mewakili kekayaan budaya Muara Muntai.
Namun dibalik eksistensinya itu, ada kekhawatiran yang tak bisa diabaikan. Ia mengatakan, pelaku asli Kuda Gepang kini semakin sedikit.
"Yang benar-benar mahir itu kebanyakan orang tua, dan banyak yang sudah meninggal. Sekarang tinggal dua sampai tiga orang saja yang masih tahu betul sejarah dan cara mainnya," katanya.
Kesenian ini sangat ramai dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Kini, tantangan terbesarnya regenerasi.
"Anak-anak muda sebenarnya mau belajar, asal diajak. Kami juga rutin latihan sebelum tampil, dan dari desa ada dukungan, termasuk anggaran lewat lembaga adat untuk kostum dan perlengkapan," tuturnya.
Ditengah upaya pelestarian, mungkin banyak masyarakat yang bertanya mengenai perbedaan kuda Gepang dan Jepang. Kuda Gepang disebut-sebut pernah diklaim oleh daerah lain, bahkan hingga luar negeri.
"Memang sempat ada yang mengklaim dari Jawa, bahkan Malaysia. Tapi kami juga diundang ke Jakarta untuk menjelaskan. Tokoh adat kami menyampaikan bahwa Kuda Gepang ini asalnya dari Muara Muntai, Kutai," tegasnya.
Menurutnya, perbedaannya terlihat dari cara permainan. Kuda Gepang Muara Muntai memiliki ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain.
"Kalau di sini, kudanya itu dipegang di pinggang, bukan diduduki. Musiknya juga khas, beda dengan yang di Jawa," tambahnya.
Pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda menjadi angin segar bagi pelestarian Kuda Gepang. Dukungan pun mulai mengalir, baik dari pemerintah daerah maupun lembaga adat. Bantuan alat musik seperti gong, kostum, hingga dukungan operasional telah diberikan.
"Harapan kami, setiap ada pesta adat atau event budaya, Kuda Gepang selalu ditampilkan. Ini bukan sekadar hiburan, tapi cara kita memperkenalkan dan menjaga budaya kita," pungkasnya. (*Zar)