
Lahan pertanian terendam banjir lumpur.(Foto: Dok. Salbiah)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri Sejahtera Desa Senoni, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengalami kerugian hingga Rp 150 juta.
Pasalnya, kerugian ini disebabkan gagal panen akibat lahan pertaniannya terendam banjir lumpur pada akhir 2025 kemarin.
Ketua KWT Mandiri Sejahtera, Salbiah mengatakan, banjir ini diduga karena adanya pengelohan lahan Hutan Tanaman Industri (HTI).
Sehingga ketika hujan deras, lahan pertanian yang berada di bawahnya terkena banjir lumpur.
"Kejadian ini sudah 2 kali, yang pertama pada Februari 2025 dan kedua di Desember 2025," kata Salbiah kepada Kutairaya, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, 2 kali peristiwa banjir ini terjadi, sedangkan lahan pertanian telah siap panen.
Peristiwa pertama telah mendapatkan ganti rugi oleh pihak terkait sebesar Rp 60 juta, tapi pada peristiwa kedua, belum mendapatkan ganti rugi, dengan alasan peristiwa tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas HTI.
"Dengan terjadinya peristiwa banjir yang pertama, pihak terkait telah memastikan tak bakal terulang kembali peristiwa ini," tuturnya.
Dia mengaku usai dilanda banjir lumpur, lahan pertaniannya tak bisa digunakan secara maksimal.
Pasalnya unsur zat asamnya terlalu tinggi, sehingga hasil panen juga tak maksimal.
"Setelah peristiwa banjir, saya masih melakukan penanaman. Tapi hasilnya tak maksimal, sehingga harus merugi," ujarnya.
Dalam hal ini, ia juga telah melaporkan peristiwa ini ke pemerintah desa setempat, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, agar dapat memediasi atau menindaklanjuti keluhan KWT ini.
Dia berharap lahan pertanian yang dikelola itu bisa kembali seperti biasa, sehingga dapat melakukan penanaman dengan baik dan menghasilkan produk pertanian yang maksimal.
"Banyak anggota KWT yang menaruh harapan pada sektor pertanian, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Jika lahan pertanian ini tak maksimal, maka dapat terancam juga nasib mereka," ucapnya.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan, Muhammad Rifani menjelaskan, telah masuk aduan atau laporan KWT Desa Senoni terkait kondisi gagal panen, yang disebabkan banjir lumpur.
"Kemarin petugas telah mendatangi ke lokasi kejadian. Saat ini tengah dilakukan pengkajian terhadap peristiwa yang menimpa KWT," ujar Rifani.
Ia mengemukakan, laporan itu telah masuk sekitar sebulan lalu.
Terkait hal ini, Distanak bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait akan menindaklanjuti persoalan tersebut.
"Biasanya petani yang gagal panen akan mendapatkan perhatian, seperti bantuan benih dan lainnya. Tapi, ini kita lihat dulu terkait gagal panen itu," ucapnya. (Ary)