• Selasa, 07 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Ilustrasi air bersih.(Foto: Dok. medsos pinterest)


TENGGARONG, (Kutairaya.com): Sejumlah warga Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengeluhkan kenaikan tarif air bersih di Perumda Tirta Mahakam hingga mencapai 50-100 persen.

Salah seorang warga, Ayesha Elvano mengatakan, kenaikan tarif air bersih ini dinilai sangat tinggi dan memberatkan pelanggan.

Pasalnya pembayaran tarif air bersih saat ini mencapai Rp 550 ribu setiap bulannya.

"Biasanya pembayaran tarif air bersih ini hanya Rp 200 ribu per bulannya. Saat ini tarifnya naik 100 persen lebih, hingga Rp. 500 ribu tarif per bulannya," kata Ayesha kepada Kutairaya, Senin (6/4/2026).

Setelah mengetahui tarif air bersih membengkak, ia langsung melakukan pengecekan terhadap pipanisasi di rumah.

Dan pipanisasi di rumah tak mengalami kebocoran.

"Kami sempat menduga pipanisasi itu juga digunakan oleh orang lain, sehingga pembayaran membengkak. Tapi setelah dicek, jalur pipanisasi air bersih di rumah aman," ucapnya.

Menurutnya, jika tarif itu normal saja, maka uang untuk membayar air bersih yang membengkak, bisa digunakan untuk kebutuhan lainnya.

"Kami berharap, tarif pembayaran air bersih bisa kembali normal. Mengingat perekonomian masyarakat sedang sulit," ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Resty Novitaria, warga lainnya.

Ia mengemukakan, kenaikan tarif pembayaran air bersih sangat tinggi.

Hal ini dibuktikan dengan pembayaran yang biasanya hanya Rp 59 ribu menjadi Rp 125 ribu.

"Kenaikan ini tak masuk akal. Kalau naiknya Rp 1.000-2.000 masih wajar, ini 2 kali lipatnya," kata Resty.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama (Dirut) Suparno Perumda Tirta Mahakam menjelaskan, tak ada kenaikan tarif air bersih.

Tarif air bersih pelanggan sekitar Rp 3.800 per kubik.

"Pelanggan diminta untuk mengecek kembali jaringan air bersih di rumahnya. Pastikan jaringan air bersih tak ada yang bocor," ujar Suparno.

Ia mengaku, pembayaran tarif air bersih ini lebih tinggi dari sebelumnya bisa karena pergantian tipe atau kategori pelanggan hingga penggantian meteran.

"Karena meteran sebelumnya sudah tak akurat, sehingga dilakukan penggantian meteran baru, yang menunjukan data pemakaian lebih akurat," ucapnya. (Ary)



Pasang Iklan
Top