• Selasa, 21 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Wakil Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), H. Rendi Solihin.(Foto : Andri wahyudi/kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Wakil Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), H. Rendi Solihin, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mulai melakukan penghematan energi sebagai langkah awal mengantisipasi potensi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta dampak kondisi global yang tidak menentu.

Rendi menegaskan upaya penghematan tidak perlu menimbulkan kepanikan, namun harus menjadi kesadaran bersama.

Bahkan, ia telah menerapkan langkah sederhana di lingkungan kerjanya dengan tidak lagi menggunakan pengawalan (patwal) dalam aktivitas dinas sehari-hari.

“Mulai hari ini, kami tidak menggunakan patwal lagi. Ini bentuk efisiensi energi, karena dalam aktivitas di Kukar sebenarnya tidak terlalu diperlukan,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).

Menurutnya, meskipun kondisi pasokan BBM di daerah belum terpantau secara detail, namun potensi gangguan tetap harus diantisipasi sejak dini.

Ia mencontohkan beberapa negara, seperti Filipina telah mengalami kelangkaan BBM yang cukup mengkhawatirkan.

“Kita berharap kondisi ini tidak berdampak besar di Kukar. Namun, tetap harus waspada karena faktor distribusi sangat berpengaruh, apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan yang bergantung pada jalur laut,” tuturnya.

Rendi juga mengingatkan potensi gangguan distribusi dapat berdampak pada kenaikan harga bahan pokok.

Hal ini terutama dirasakan di wilayah Kalimantan yang masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, seperti Sulawesi dan Jawa.

“Kalau distribusi terganggu, otomatis biaya meningkat dan harga bahan pokok ikut naik. Ini yang harus kita antisipasi,” katanya.

Maka itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kukar akan terus memantau perkembangan harga di lapangan guna memastikan tidak terjadi lonjakan signifikan.

Selain isu energi, Rendi juga menyinggung kemungkinan penerapan kebijakan Work From Anywhere (WFA) atau Work From Home (WFH) sebagai bagian dari efisiensi.

Namun, ia menegaskan pelayanan publik harus tetap berjalan optimal.

“Pelayanan publik tidak boleh terganggu. Kalau tidak bisa tatap muka, maka harus disiapkan sistem layanan online yang memadai,” ujarnya.

Di sisi lain, Rendi turut mengingatkan masyarakat akan potensi kemarau panjang yang dapat memicu kebakaran serta krisis air bersih, terutama di wilayah pertanian, sehingga perlu diantisipasi sejak dini.

“Dampak kemarau sudah mulai terasa, bahkan kebakaran sudah terjadi di beberapa wilayah. Masyarakat harus menjaga kondisi kesehatan, perbanyak minum agar tidak dehidrasi,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan wilayah Kukar pernah mengalami kondisi serupa di masa lalu, sehingga kesiapsiagaan menjadi kunci untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

“Kalau kemarau panjang terjadi hingga Oktober, kita harus siap. Mudah-mudahan tidak separah sebelumnya, tapi kita tetap harus waspada,” ucapnya. (Dri)



Pasang Iklan
Top