
Sekretaris Dinas Sosial Kukar, Yulandris Suherdiman.(Foto: Andri Wahyudi/KutaiRaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Marak aksi badut di sejumlah persimpangan jalan di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kian menjadi sorotan publik.
Fenomena ini makin sering terlihat, khususnya pada jam padat lalu lintas.
Para badut tersebut tidak hanya diisi oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa.
Mereka tampak beraksi di tepi hingga tengah jalan untuk menarik perhatian pengguna kendaraan, dengan harapan memperoleh uang dari pengendara.
Namun, keberadaan mereka dinilai menimbulkan persoalan baru di ruang publik.
Selain dianggap mengganggu kelancaran lalu lintas, aktivitas mereka juga berisiko terhadap keselamatan jiwa, baik bagi pelaku maupun para pengendara.
Sekretaris Dinas Sosial Kukar, Yulandris Suherdiman, menegaskan fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai hiburan semata.
Ia menuturkan, aktivitas tersebut sudah berkembang menjadi bentuk lain dari praktik mengemis di jalanan.
“Ini bukan sekadar kreativitas. Sudah ada pola yang mengarah pada aktivitas meminta-minta dengan cara yang dikemas berbeda,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan, variasi metode yang digunakan semakin beragam, mulai dari penggunaan kostum hingga pendekatan langsung kepada pengendara.
Dalam beberapa kasus ditemukan, adanya pihak yang menyediakan kostum untuk disewakan.
Menurutnya, faktor utama yang membuat fenomena ini terus berkembang adalah kebiasaan masyarakat yang masih memberikan uang secara langsung di jalan.
“Selama masyarakat masih memberi, aktivitas ini akan terus ada. Karena itu, kami mengimbau agar tidak memberikan uang di jalan,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan penanganan awal menjadi kewenangan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dalam rangka penegakan ketertiban umum.
Setelah itu, Dinas Sosial akan melakukan pendataan dan pembinaan sesuai kebutuhan.
Sementara itu Dani, warga Tenggarong, mengaku mulai merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut.
Ia menilai keberadaan badut jalanan mengurangi kenyamanan kota, terutama bagi pengguna jalan dan pengunjung.
“Kadang mereka sampai ke tengah jalan, itu cukup mengganggu. Harapannya ada penertiban supaya lebih tertib,” ujarnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menertibkan aktivitas tersebut, sekaligus memberikan solusi yang lebih tepat bagi para pelaku agar tidak kembali ke jalan. (Dri)