Lapas Perempuan Perempuan Kelas II A Tenggarong (Foto : Andri wahyudi/kutairaya)
TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Lembagaa Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Tenggarong mengintensifkan kegiatan pembinaan keagamaan bagi warga binaan selama Ramadan 1447 Hijriah.
Berbagai program ibadah dan sosial digelar guna meningkatkan kualitas spiritual para warga binaan.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong, Riva Dilyanti, melalui Kepala Bidang Humas, Yhuni Rindawati, menyampaikan suasana Ramadan di dalam Lapas pada dasarnya sama seperti di Lapas lainnya, dengan penekanan pada fungsi pembinaan.
"Selama Ramadan, kegiatan utama kami adalah pembinaan keagamaan. Setiap pagi warga binaan mengikuti tadarus Al-Qur’an. Alhamdulillah, sudah mencapai 4 kali khatam," ujar Yhuni, Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan mengaji diikuti seluruh warga binaan, mulai dari tingkat Iqra hingga Al-Qur’an.
Setiap kamar dibatasi jumlah peserta yang mengikuti tadarus secara bergiliran, agar pelaksanaan berjalan tertib dan kondusif.
Selain tadarus, pelaksanaan salat Tarawih digelar setiap malam di lapangan terbuka Lapas.
Namun, apabila hujan turun, ibadah dilaksanakan di kamar masing-masing.
Karena keterbatasan tempat, pelaksanaan Tarawih dilakukan secara bergantian.
"Setiap malam sekitar 135 orang mengikuti Tarawih di lapangan. Kami atur secara bergiliran dari 9 kamar. Jika ada yang berhalangan, akan digantikan oleh warga binaan lainnya," ujarnya.
Saat ini jumlah penghuni Lapas Perempuan Tenggarong tercatat sebanyak 397 orang.
Dari jumlah tersebut, ada 3 anak dan 13 tahanan, sedangkan sisanya berstatus narapidana.
Dalam hal pemenuhan hak, pihak Lapas memastikan seluruh warga binaan tetap memperoleh jatah makan sesuai ketentuan, yakni 3 kali sehari.
Selama Ramadan, sahur dan berbuka puasa dilaksanakan bersama.
Bahkan, pihak Lapas juga menyediakan tambahan menu, seperti puding untuk mendukung kegiatan ibadah.
Di luar kegiatan ibadah harian, Lapas Perempuan Tenggarong juga menggelar pengajian rutin (taklim) setiap Kamis bekerja sama dengan Kementerian Agama dan pondok pesantren setempat.
Untuk pelaksanaan Tarawih, imam dan muazin didatangkan dari pondok pesantren yang telah menjalin kerja sama dengan Lapas.
Bagi warga binaan nonmuslim, pembinaan keagamaan tetap berjalan sebagaimana biasa.
Ibadah rutin dilaksanakan setiap minggu dengan pendeta yang bekerja sama dengan Kementerian Agama.
"Kami juga memiliki program pendidikan, seperti Paket A, B, dan C. Jadi pembinaan di sini tidak hanya keagamaan, tetapi juga pendidikan formal," tambahnya.
Sebagai bentuk kepedulian sosial, pihak Lapas turut menyalurkan paket sembako kepada masyarakat sekitar.
Selain itu, agenda buka puasa bersama keluarga warga binaan juga dijadwalkan berlangsung di ruang kunjungan.
Setiap warga binaan dapat mengundang hingga 5 anggota keluarga untuk berbuka bersama (bukber) dalam waktu terbatas, mulai pukul 17.00 WITA hingga jelang Magrib.
Jelang Idulfitri, layanan kunjungan juga akan dibuka selama 4 hari berturut-turut guna memberikan kesempatan kepada keluarga untuk bersilaturahmi.
"Warga binaan di sini berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Timur, tidak hanya dari Tenggarong, tetapi juga dari Samarinda, Bontang, Balikpapan hingga daerah yang cukup jauh. Karena itu, momentum Ramadan dan Idulfitri kami manfaatkan untuk mempererat hubungan keluarga," ucap Yhuni. (dri)